PBB Selidiki Penggunaan Senjata Kimia di Suriah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekjen PBB Ban Ki-moon menyampaikan pidato utamanya di acara peresmian pembukaan Jakarta International Defense Dialogue (JIDD) tahun 2012 di Balai Sidang, Jakarta, Rabu (21/3). FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/ed/nz/12.

    Sekjen PBB Ban Ki-moon menyampaikan pidato utamanya di acara peresmian pembukaan Jakarta International Defense Dialogue (JIDD) tahun 2012 di Balai Sidang, Jakarta, Rabu (21/3). FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/ed/nz/12.

    TEMPO.CO, New York - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Kamis 21 Maret 2013, mengumumkan bahwa badan dunia ini akan meluncurkan penyelidikan dugaan penggunaan senjata kimia dalam konflik di Suriah. "Saya telah memutuskan untuk melakukan penyelidikan PBB soal kemungkinan penggunaan senjata kimia di Suriah," kata Ban kepada wartawan. 

    Suriah yang meminta Sekjen PBB, Rabu 20 Maret 2013, untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia oleh "kelompok teroris" di dekat kota utara Aleppo, sehari sebelumnya. Permintaan ini disampaikan Duta Besar Suriah di PBB, Bashar Ja'afari.

    Oposisi Suriah juga mengatakan, ada serangan senjata kimia kedua pada hari Selasa, 19 Maret 2013, di Damaskus, atau pada hari yang sama dengan di Aleppo. Pemerintah dan oposisi, yang terlibat dalam konflik bersenjata hampir dua tahun, sama-sama saling menuduh sebagai pihak yang menggunakan senjata kimia.

    Tetapi Ban menegaskan, fokus penyelidikan kali ini adalah pada serangan di Aleppo. PBB akan bekerja sama dengan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam penyelidikan ini.

    "Kerjasama penuh dari semua pihak akan penting. Saya menekankan bahwa ini termasuk akses yang tak dihalangi," kata Ban. "Saya menegaskan hal ini dalam komunikasi saya dengan pihak berwenang Suriah." Penyelidikan akan dimulai secepatnya.

    Reuters | Abdul Manan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.