Dubes Bantah Amerika Alami Krisis Ekonomi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Scot Marciel. TEMPO/Jacky Rachmansyah

    Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Scot Marciel. TEMPO/Jacky Rachmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Scot Marciel, membantah bahwa negaranya mengalami krisis ekonomi. Menurut dia, ekonomi Amerika tidak mengalami guncangan, bahkan relatif stabil sejak tahun 2010. "Pertumbuhan ekonomi kami tahun lalu mencapai 2 persen," kata Marciel saat ditemui di gedung Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin, 18 Maret 2013.

    Menurut Marciel, pertumbuhan ekonomi sebesar 2 persen itu artinya meningkat US$ 300 miliar atau setara Rp 2.955 triliun dibanding tahun lalu. Angka ini dia klaim lebih tinggi dibanding negara-negara di Asia. Selain itu, ada 2 juta pekerjaan baru pada tahun 2012 dan menurunkan defisit anggaran sampai 40 persen.

    "Kami yakin tahun ini pertumbuhan ekonomi meningkat 2-3 persen," tutur duta besar Negeri Abang Sam itu. Amerika Serikat tetap ingin terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negaranya.

    Akhir tahun 2011, The Economy Collapse (TEC), berdasarkan survei yang mereka lakukan, telah melansir 10 fakta mengejutkan tentang ekonomi Amerika. Antara lain, total utang Amerika Serikat saat itu yang mencapai US$ 15 triliun, naik US$ 4,4 triliun dari besaran utang ketika Presiden Obama pertama kali menjabat. Saat ini, 48 persen penduduk Amerika dinyatakan hidup dalam kemiskinan.

    Fakta lain, ada 33 persen lebih banyak anak gelandangan dibandingkan pada 2007. Penduduk Amerika rata-rata menganggur atau menunggu panggilan kerja lebih dari 40 minggu. Saat itu, lebih dari 40 persen pekerjaan di Amerika masuk kategori pekerjaan berpenghasilan rendah. Padahal, pada era 1980-an, pekerjaan bergaji rendah hanya kurang dari 30 persen.

    Satu dari tiga orang Amerika kemungkinan tidak dapat membayar sewa rumah pada bulan berikutnya jika ia kehilangan pekerjaan, begitu disebutkan dalam suatu survei. Perusahaan Pos Amerika mengalami kerugian US$ 5 miliar dolar pada tahun ini. Satu dari tujuh penduduk Amerika memiliki lebih dari 10 kartu kredit. Sebuah survei menunjukkan bahwa 77 persen bisnis skala kecil di Amerika tidak berencana menambah karyawan.

    SUNDARI

    Berita Lainnya:
    Ahli Hukum Klaim Indonesia Perlu Pasal Santet
    Kericuhan Warnai Kongres Luar Biasa PSSI
    La Nyalla Jadi Wakil Ketua Umum PSSI
    Polisi Tangkap Dua Perusak Kantor Tempo
    Ini Dia Formula Renault Andalan Alexandra


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.