Kompetisi Mencari Pengganti Chavez Dimulai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nicolas Maduro. REUTERS/Miraflores Palace/Handout

    Nicolas Maduro. REUTERS/Miraflores Palace/Handout

    TEMPO.CO, Caracas - Dua calon Presiden Venezuela, yang kelak akan menggantikan Hugo Chavez, memulai kampanye awalnya untuk pemilihan presiden 14 April. Nicholas Maduro maju sebagai calon dari Partai Sosialis Bersatu, Henrique Capriles dari oposisi. Dalam pidatonya, kedua kandidat sudah saling menyerang secara pribadi.

    Seperti sudah diduga, Maduro memanfaatkan kedekatannya dengan Chavez. "Saya bukan Chavez, tapi saya anaknya," kata Maduro di depan ribuan massa pendukungnya saat ia secara resmi menyerahkan surat pencalonannya kepada Komisi Pemilu, Senin 11 Maret 2013. Maduro datang sendiri ke Komisi Pemilihan Umum, sedangkan Chapriles mengirimkan perwakilannya untuk menyerahkan pendaftarannya.

    Chavez, sebelum operasi kanker keempat dan terakhirnya Desember lalu, sempat menyampaikan keinginannya secara terbuka bahwa ia ingin Maduro, yang menjadi kandidat Partai Sosialis, untuk menggantikannya jika ia meninggal. Maduro juga bersumpah untuk melanjutkan kebijakan radikal guru politiknya itu di Amerika Selatan, termasuk penggunaan pendapatan minyak untuk program sosial.

    "Nicolas, saya tidak akan memberi Anda jalan yang mudah... Anda bukan Chavez," kata Capriles dalam pidato agresifnya, Ahad, 10 Maret malam. Capriles adalah penantang Chaves dalam pemilihan presiden Oktober 2012 dan kalah tipis--ia memperoleh 44 suara.  Dia juga menuduh Maduro berbohong soal kesehatan Chaves, dengan mengecilkan penyakitnya sementara ia menyiapkan pencalonannya.

    Selain memanfaatkan sentimen Chavismo, Maduro secara tak langsung juga menyinggung orientasi seksual saingan politiknya itu dalam pidato Senin itu. "Seperti kamu tahu, saya memiliki istri," kata dia kepada kerumunan massa pendukungnya, dengan Cilia Flores istrinya di sisinya. Cilia adalah Jaksa Agung Venezuela yang mengundurkan diri dan bergabung dalam kampanye suaminya.

    Capriles, keturunan Yahudi Polandia dari sisi ibunya, sering menjadi korban penghinaan rasis dari pendukung Chavez tahun lalu. Meskipun melajang, Capriles diketahui memiliki sejumlah teman kencan di masa lalu. Dia mencemooh penghinaan pribadi seperti itu dan menyebutnya sebagai pola pikir agresif pendukung pemerintah.

    Bagi oposisi, kampanye dalam waktu sebulan untuk mengalahkan Maduro bukan tugas yang mudah. Dua jajak pendapat yang dilakukan sebelum kematian Chavez juga menempatkan perolehan Maduro memimpin lebih dari 10 persen.

    "Pemerintah ingin membuat rakyat Venezuela berpikir adalah mustahil (oposisi) memenangkan pemilu ini ... Mr. Maduro, silakan gunakan dan salahgunakan semua kekuatan sesukanya... kami tidak akan bertekuk berlutut," kata pemimpin oposisi terkemuka, Leopoldo Lopez, yang juga Wali Kota Chacao, Caracas.

    REUTERS| ABDUL MANAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.