Pengeboman Hambat Pembebasan Pasukan PBB di Golan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Markas besar PBB di New York merupakan salah satu hasil karya Oscar Niemeyer yang dibangun pada tahun 1949-1950. AP/Osamu Honda

    Markas besar PBB di New York merupakan salah satu hasil karya Oscar Niemeyer yang dibangun pada tahun 1949-1950. AP/Osamu Honda

    TEMPO.CO, Beirut - Pemberontak Suriah menuding pengeboman yang dilakukan tentara pemerintah, Jumat, 8 Maret 2013, menghambat pembebasan 21 pasukan penjaga perdamaian PBB di dekat Dataran Tinggi Golan. Pasukan perdamaian yang berasal dari Filipina itu ditahan pemberontak sejak Rabu lalu.

    Juru bicara Brigade Martir Yarmouk, Abu Essam Taseel, mengatakan, konvoi yang membawa pasukan perdamaian itu mencapai Desa Nafea, sekitar 1 kilometer dari timur Jamla. Namun usaha pembebasan mereka tak bisa terus dilakukan karena ada pengeboman itu.

    Pemimpin pasukan penjaga perdamaian, Herve Ladsous, berharap ada gencatan senjata singkat antara pemberontak dan pasukan Presiden Bashar al-Assad. Gencatan senjata itu diharapkan bisa memungkinkan pasukan PBB itu dibebaskan dan dibawa ke tempat yang lebih aman.

    "Pasukan penjaga perdamaian yang sebanyak 21 orang itu ditahan di Desa Jamla. Mereka dalam kondisi aman dan menyebar ke empat lokasi di desa itu, di ruang bawah tanah rumah tersebut," kata Ladsous setelah memberikan keterangan singkat di kantor Dewan Keamanan PBB di New York, Jumat, 8 Maret 2013.

    Ladsous membenarkan bahwa ada penembakan terus-menerus di Desa Jamla yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Suriah. "Ada kemungkinan bahwa gencatan senjata beberapa jam dapat digunakan untuk campur tangan yang memungkinkan orang-orang kami dibebaskan," kata dia.

    Duta Besar Suriah di PBB, Bashar Jaafari, membantah klaim pemberontak yang menyebut pengeboman sebagai penyebab tak bisa dibebaskannya pasukan perdamaian. Menurut Bashar, tentara pemerintah telah menargetkan daerah-daerah di luar Jamla, tempat para pemberontak terkonsentrasi, bukan desa itu sendiri.

    "Kami tahu pasti apa yang kami lakukan dan kami tahu di mana pasukan penjaga perdamaian berada," kata Jaafari. "Pasukan pemerintah Suriah melakukan persis apa yang harus mereka lakukan untuk membawa kembali pasukan penjaga perdamaian dengan aman, menjamin keselamatan dan keamanan penduduk, dan mengeluarkan kelompok teroris bersenjata keluar dari daerah tersebut."

    Pasukan penjaga perdamaian yang ditahan itu merupakan bagian dari UN Disengagement Observer Force (UNDOF). Mereka bertugas memantau garis gencatan senjata antara Suriah dan Israel di Dataran Tinggi Golan sejak tahun 1974.

    Saat menahan 21 anggota pasukan perdamaian itu, Rabu lalu, brigade Martir Yarmouk mengatakan mereka hanya akan melepaskan tahanan itu setelah pasukan Assad mundur dari seluruh Jamla dan menghentikan pengeboman di sana.

    Konflik bersenjata Suriah, yang bermula dari protes damai penentang Bashar Al-Assad itu, sudah memasuki tahun kedua. PBB menaksir ada lebih dari 1 juta penduduk Suriah yang menjadi pengungsi akibat konflik ini.

    Reuters | Abdul Manan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?