Hubungan Malaysia-Filipina Tak Terpengaruh Insiden

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengikut mantan Sultan Sulu Jamalul Kiram III melakukan protes di depan Masjid Biru di Taguig, Filipina, (1/3). Menurut mereka Sabah yang sekarang menjadi bagian Malaysia, merupakan wilayah Kesultanan Sulu yang disewakan kepada pemerintah kolonial Inggris. (AP Photo/Bullit Marquez)

    Pengikut mantan Sultan Sulu Jamalul Kiram III melakukan protes di depan Masjid Biru di Taguig, Filipina, (1/3). Menurut mereka Sabah yang sekarang menjadi bagian Malaysia, merupakan wilayah Kesultanan Sulu yang disewakan kepada pemerintah kolonial Inggris. (AP Photo/Bullit Marquez)

    TEMPO.CO, Sabah - Penyusupan oleh kelompok pria bersenjata yang mengaku sebagai Tentara Kesultanan Sulu tidak akan merusak hubungan bilateral antara Malaysia dan Filipina. Penyerangan oleh kelompok yang dipimpin oleh Agbimuddin Kiram adalah bersifat individu.

    Hal ini ditegaskan Dekan Fakultas Hukum dan Hubungan Internasional, Universiti Utara Malaysia, Prof Dr Ahmad Marthada Muhamed. "Penyusupan adalah untuk kepentingan Sultan  Sulu, Jamalul Kiram III, yang tidak didukung oleh Pemerintah Filipina," katanya.

    Hal ini terbukti ketika Presiden Filipina, Beniqno Aquino III menuntut bahwa penyusup menyerah tanpa syarat kepada pasukan keamanan Malaysia. Ia juga menyarankan agar pemerintah tak bernegosiasi dengan Jamalul Kiram.

    "Tidak mudah bagi seseorang untuk mengklaim sebuah negara yang merupakan bagian dari sebuah negara yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara asal mereka, Filipina," katanya, seperi dilaporkan kantor berita Malaysia, Bernama.

    Ahmad Marthada mengatakan sebelumnya telah ada warga Sulu yang tinggal di Sabah. Serangan terjadi karena ada kekhawatiran di kalangan mereka bahwa mereka akan dideportasi karena tidak memiliki surat-surat.

    "Mereka mungkin berharap kesepakatan dari pemerintah dan dapat menuntut bahwa warga Sulu di Sabah diperbolehkan untuk menetap di sana," katanya.

    Dia mengatakan, penyusup berani karena mereka mendapat dukungan dari warga Sulu di Sabah dan memiliki pengalaman dalam perang gerilya di Filipina selatan. "Mereka mendarat di daerah dengan luas 20 sampai 25 kilometer. Ini adalah area yang luas dan sangat mustahil bagi kita untuk memastikan wilayah itu diawasi 24 jam," tambahnya.

    Psikolog Universitas Malaya, Prof Dr Mariani Md Nor mengatakan penyusup memiliki semangat 'berani mati'. Indikasinya, mereka berani menyerang negara dengan peralatan militer yang lebih baik.

    "Semangat ini membuat mereka bersedia untuk membunuh atau dibunuh dalam rangka untuk mencapai tujuan mereka yang dianggap sebagai perjuangan untuk kelangsungan hidup rakyat mereka," katanya.

    Para penyusup tidak ragu untuk menggunakan taktik pengecut, termasuk mengibarkan bendera putih tapi menembaki pasukan keamanan, yang menewaskan Inspektur Zulkifli Mamat dan Kopral Daud Sahabudin.

    "Para penyusup itu telah dicuci otak bahwa mereka berada di jalan yang benar dan bersedia untuk melakukan kamikaze meskipun pemerintah Malaysia mengedepankan penyelesaian masalah tersebut secara damai," katanya.

    MALAYSIA INSIDER | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.