Informan FBI: Syekh Buta Akan Bunuh Warga Amerika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Teman dan kerabat para korban serangan 11 September berkumpul di Memorial Nasional 11 September di situs WTC, New York. Pada tahun ini, Serangan 11 September genap menginjak 10 tahun. AP/Jason DeCrow

    Teman dan kerabat para korban serangan 11 September berkumpul di Memorial Nasional 11 September di situs WTC, New York. Pada tahun ini, Serangan 11 September genap menginjak 10 tahun. AP/Jason DeCrow

    TEMPO.CO, New York - Seorang informan FBI yang telah membantu menangkap beberapa teroris yang dianggap paling berbahaya di dunia mengingatkan ancaman terorisme di bumi Amerika Serikat masih akan terjadi. Emad Salem, nama informan itu,  mendesak AS untuk menjaga Syekh Omar Abdel Rahman, sering dikenal sebagai Syekh Buta tetap di penjara AS dan tidak mentransfernya. "Bahkan jika pemerintah negara lain terus menekan untuk pembebasannya," katanya.

    Menurutnya, Syekh Buta itu sangat berbahaya. "Dia akan membunuh warga Amerika," kata Salem. "Dia akan membunuh siapa saja yang membantah apa yang dia katakan dengan fatwa."

    Salem, pernah menjadi perwira militer Mesir, pada tahun 1993 telah memperingatkan para pejabat tentang pengeboman World Trade Center. Namun peringatannya itu diabaikan setelah tes detektor kebohongan menunjukkan hasil tidak meyakinkan.

    Setelah pengeboman itu, Salem setuju untuk menjadi informan FBI dan berhasil menjadi asisten pribadi sang Syekh. Salem merekam perintah  pembunuhan antara lain di Jersey City dan Brooklyn.

    Dalam satu surat tertanggal 26 Februari 2008, menteri kehakiman Qatar menyampaikan permintaan dari keluarga Rahman agar ia ditransfer kembali ke negara untuk menjalani sisa hukumannya. Mereka mengatakan keluarganya ingin lebih mudah untuk mengunjungi.

    Baru-baru ini,  putra Rahman menulis di situs web keluarga mereka bahwa "Amerika akan membayar harga yang mengerikan" jika ia tidak segera dibebaskan.

    NBC | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.