Perang di Suriah, Fotografer Prancis Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tentara pembebasan Suriah membawa peluncur roket melewati reruntuhan bangunan di Kota Homs, Suriah (30/1). REUTERS/Yazan Homsy

    Seorang tentara pembebasan Suriah membawa peluncur roket melewati reruntuhan bangunan di Kota Homs, Suriah (30/1). REUTERS/Yazan Homsy

    TEMPO.CO, Damaskus - Turki dan Amerika Serikat mengecam keras rezim Suriah menyusul meningkatnya jumlah korban serangan misil ke Aleppo yang menewaskan 58 orang. Fotografer Prancis yang cedera dalam konflik berdarah tersebut dilaporkan tewas, Ahad, 24 Februari 2013.

    Pada sebuah kunjungan ke Uni Emirat Arab, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, mengutuk rezim Assad. Menurut dia, jumlah korban dari kalangan anak-anak dan kaum perempuan di Suriah meningkat.

    Erdogan bersumpah bahwa negaranya tidak akan tinggal diam atas kejahatan rezim terhadap rakyat Suriah. Pernyataan Erdogan itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Prancis membenarkan bahwa forografer freelance, Oliver Voisin, luka serius di Suriah, Kamis, 21 Februari 2013. Dia dinyatakan meninggal, Ahad, 22 Februari 2013, setelah menjalani operasi di Turki.

    Negara tetangga yang terletak di selatan Turki itu dilanda kecamuk perang saudara selama 23 bulan. Menurut taksiran PBB, akibat pertempuran tersebut lebih dari 70 ribu orang tewas dibunuh.

    Syrian Observatory for Human Rights, kelompok oposisi berbasis di London, Ahad, 22 Februari 2013, mengatakan, sedikitnya 70 ribu orang tewas dalam aksi kekerasan di Suriah.

    AL ARABIYA | CHOIRUL

    Berita terpopuler lainnya:
    Din Syamsuddin: Anas Tak Mau Jadi Korban Sendiri
    Selain Anas, KPK Mulai Bidik Nama Lain

    Salah Ramal Pilkada Jabar, Gantung di Gedung Sate

    Soal Kredit Bank Jabar, Aher: Gua Bisa Lawan

    Kenapa Aher Tak Terpengaruh Kasus PKS dan BJB?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.