Iran Tuding Oscar untuk Argo Bermotif Politik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah layar menampilkan video streaming Lady Michelle Obama membuka sebuah amplop yang berisi nama nominator Film Terbaik Oscar 2013.

    Sebuah layar menampilkan video streaming Lady Michelle Obama membuka sebuah amplop yang berisi nama nominator Film Terbaik Oscar 2013. "Argo," dari Washington, Los Angeles, (24/2). (Photo by Chris Pizzello/Invision/AP)

    TEMPO.CO, Teheran – Media pemerintah Iran menyatakan Piala Oscar bagi film Argo bermotif politik. Film Argo yang berkisah tentang drama penyanderaan diplomat Amerika Serikat saat Revolusi Islam 1979 terpilih sebagai film terbaik dalam ajang Academy Awards.

    Kantor berita Mehr dan Fars menyatakan, penghargaan itu berdimensi politik, terutama lantaran pengumumannya disampaikan oleh Ibu Negara Michelle Obama. Penampilan Michelle dari Gedung Putih ditayangkan di layar panggung Oscar.

    Kedua media massa Iran itu mempertanyakan kenapa penampilan seorang Ibu Negara tidak pernah terjadi dalam acara Oscar sebelumnya dan hanya ketika film anti-Iran diberi penghargaan.

    Iran sebelumnya telah mengatakan, sejumlah penghargaan yagn diberikan kepada film karya Ben Affleck tersebut bermotif politik. “Fim tersebut dari segi teknis maupun artistik tidak layak diberikan penghargaan apa pun dan alasannya lebih kepada aspek anti-Iran,” kata Menteri Kebudayaan Iran Mohmmad Hosseini.

    “Film ini adalah upaya untuk mendistorsi sejarah dan memaksakan sudut pandang Amerika Serikat,” ia menambahkan.

    Iran berencana untuk membalas dengan membuat film tandingan berjudul Joint Command. Film itu terkait dengan insiden yang berlangsung 1979-1980 dan operasi rahasia pembebasan enam diplomat Amerika Serikat untuk keluar dari negara itu.

    THE HINDU | NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.