Bom Quetta Menewaskan 64 Orang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asap tebal terlihat setelah serangan bom di wilayah muslim Syiah di Quetta, Pakistan, Sabtu (16/2). REUTERS/Naseer Ahmed

    Asap tebal terlihat setelah serangan bom di wilayah muslim Syiah di Quetta, Pakistan, Sabtu (16/2). REUTERS/Naseer Ahmed

    TEMPO.CO, Quetta – Sebanyak 64 orang, termasuk anak-anak usia sekolah, tewas dalam ledakan bom di Quetta, Pakistan, Sabtu. Juru bicara Lashkar-e-Jhangvi, kelompok Sunni, mengaku bertanggung jawab atas serangan di pasar utama kota itu, termasuk sebuah sekolah dan pusat pendidikan komputer. Polisi mengatakan, sebagian besar korban adalah warga Syiah.

    Di lokasi kejadian, tas-tas sekolah dan buku-buku yang terbakar tampak berserakan. “Ledakan disebabkan bom rakitan yang dipasang di sebuah sepeda motor,” kata Wazi Khan Nasir, Deputi Inspektur Jenderal Polisi Quetta. “Ini adalah kelanjutan dari aksi terorisme melawan warga Syiah.”

    Seorang saksi di rumah sakit mengatakan, dia melihat banyak jenazah perempuan dan anak-anak. Sedikitnya puluhan orang meninggal akibat luka bakar dalam ledakan tersebut. Badan intelijen Barat menuding Taliban Pakistan dan Al-Qaeda sebagai ancaman terbesar bagi negeri itu. Namun, otoritas penegak hukum Pakistan sendiri menyebut Lashkar-e-Jhangvi makin kuat.

    Bulan lalu, kelompok itu melakukan serangan bom di Quetta, yang menewaskan hampir 100 orang. Ribuan warga Syiah turun ke jalan-jalan di beberapa kota memprotes serangan itu. Badan intelijen Pakistan mengatakan, kelompok ekstremis yang dipimpin Lashkar-e-Jhangvi meningkatkan serangan bom dan penembakan di kawasan Syiah untuk membuka jalan bagi pemerintahan Sunni di Pakistan.

    Lebih dari 400 warga Syiah tewas terbunuh di Pakistan tahun lalu. Sebagian besar dihantam bom. Pelaku hampir tidak pernah tertangkap. Beberapa kelompok Syiah garis keras membalas dengan membunuh ulama Sunni.

    Kekerasan sektarian membuat kredibilitas pemerintah kian jatuh, setelah dikritik gagal menangani korupsi dan stagnasi ekonomi menjelang pemilihan bulan Mei medatang.

    REUTERS | NATALIA SANTI


    Berita Lainnya:
    Pengakuan Kolega Maharani Suciyono: 60 Juta/Bulan!
    Ayam Kampus: Beda Harga Beda Rasa
    Meteor Rusia Sempat Dikira Pesawat Jatuh
    Doa Status BBM Anas Sama Dengan Noordin M Top
    Jokowi Presiden Diteriakkan Massa Rieke-Teten
    Anas Mundur Bisa Dianggap Pahlawan Demokrasi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.