Bakar Diri, Biksu Tibet Memprotes Cina  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi bakar diri pria Tibet memprotes kekuasaan Cina atas wilayah mereka.

    Aksi bakar diri pria Tibet memprotes kekuasaan Cina atas wilayah mereka.

    TEMPO.CO, Kathmandu - Aksi bakar diri para biksu Tibet untuk memprotes penjajahan Cina mencapai momentum baru kemarin. Seorang biksu yang membakar diri di depan sebuah restoran di Kota Kathmandu, Nepal, menjadi orang keseratus yang melakukan aksi tersebut sejak 2009.

    “Seorang pria berpakaian biksu berusia 21 tahun tiba di restoran dekat kuil suci Buddha, Stupa Boudhanath, pada pagi hari. Ia kemudian menuju toilet dan mengguyur tubuhnya dengan bensin lalu membakar dirinya sendiri,” kata Keshav Adhikari, juru bicara polisi Nepal.

    Peziarah festival Losar yang memenuhi lokasi suci itu segera menolong memadamkan api dari tubuh dan pakaian pelaku. Pria tersebut kini dalam kondisi kritis di rumah sakit. “Seluruh tubuhnya terbakar hebat. Saat di rumah sakit, ia berusaha berbicara kepada petugas medis, tapi kesulitan karena kondisinya yang sangat parah,” ujar Adhikari.

    Pemerintahan Tibet di Kota Dharamshala, India, mencatat insiden ini menandai 100 aksi bakar diri sejak penguasaan Cina pada 2009. Sebanyak 83 pelaku akhirnya tewas. “Aksi ini merupakan bentuk protes atas penindasan Cina yang melarang kebebasan berpendapat dan beribadah warga Tibet,” ujar Perdana Menteri Tibet Lobsang Sangay dalam wawancara di Dharamshala.

    Sangay mendesak dunia internasional membantu Tibet untuk mengakhiri penindasan Cina. “Pemerintah Cina telah menjajah wilayah Tibet,” ia menegaskan. Seluruh pelaku aksi bakar diri menuntut Cina untuk mengizinkan Dalai Lama kembali ke Tibet dan memberikan kebebasan beribadah bagi penduduk Tibet.

    Namun Beijing selalu menyalahkan Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet dan pemenang hadiah Nobel Perdamaian, sebagai dalang di balik aksi ini. Pemimpin Tibet yang meninggalkan tanah kelahirannya pada 1959 mendesak warga Tibet untuk mengakhiri tindakan tersebut. “Insiden ini sangat menyedihkan,” ucap Tempa Tsering, juru bicara parlemen Tibet, menanggapi aksi ke-100 tersebut.

    Sekitar 20 ribu warga Tibet yang bermukim di Nepal kerap berunjuk rasa memprotes penindasan Cina. Meski melarang aksi tersebut, Nepal memperbolehkan warga Tibet melintasi negaranya menuju Dharmasala.

    AP | ASIAONE | SITA PLANASARI AQUADINI

    Baca juga
    Ini Edaran MUI Depok Larang Rayakan Valentine

    Pemakzulan Bupati Aceng Tunggu Keputusan Presiden

    Jokowi Akan Ubah Manajemen Pasar



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.