Beijing Gelar Latihan Perang di Pasifik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/David Gray

    REUTERS/David Gray

    TEMPO.CO, Beijing - Cina kembali memanaskan suasana di Samudra Pasifik setelah kemarin mengumumkan akan menggelar latihan perang. Tiga kapal perang Cina bertolak menuju Samudra Pasifik Barat dan melewati perairan yang menjadi sengketa di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan.

    Pengumuman ini hanya sehari setelah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meminta pemimpin Cina untuk bertemu guna membahas sengketa tersebut. Penjaga pantai Jepang melaporkan tiga kapal perang melintasi perairan di sekitar kepulauan yang disebut Jepang sebagai Senkaku dan Diaoyu oleh Cina itu.

    Kantor berita Xinhua menggambarkan manuver itu sebagai latihan rutin. Namun langkah ini justru memanaskan hubungan Cina yang tengah menghadapi sengketa dengan Jepang.

    “Armada akan menjalani 20 macam latihan, termasuk konfrontasi, pertempuran, perlindungan, komando, dan pengendalian hak-hak maritim,” tulis pernyataan Kementerian Pertahanan Cina.

    Rencananya, latihan dilakukan di Laut Kuning, Laut Cina Timur, Laut Cina Selatan, Selat Miyako, Terusan Bashi, serta perairan sebelah timur Taiwan.

    Pemerintah Cina memang memberi perhatian khusus pada kekuatan lautnya. Presiden Cina Hu Jintao memprioritaskan penguatan Angkatan Laut, khususnya armada laut dalam yang beroperasi jauh dari pantai Cina. Kapal-kapal Cina juga telah berpartisipasi dalam misi anti-perompakan di lepas pantai Somalia.

    Hanya, peningkatan anggaran, kemajuan militer, serta kurangnya transparansi yang dilakukan Cina meresahkan negara-negara tetangga dan Amerika Serikat. Cina juga dikabarkan tengah mengembangkan pesawat tempur antiradar. Bahkan tahun lalu Beijing sukses meluncurkan kapal induk pertama.

    “Latihan perang di Pasifik tersebut biasa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tempur armada,” tulis Xinhua mengutip seorang pejabat Angkatan Laut.

    Persoalan klaim Kepulauan Senkaku, selain melibatkan Cina dan Jepang, melibatkan Taiwan. Presiden Taiwan Ma Ying-jeou, di Taipei, kemarin, menepis klaim Jepang atas lima pulau tak berpenghuni tersebut. Menurut Ma, penyelesaian klaim kedaulatan atas pulau yang disebut Diaoyutai--sama dengan Cina--oleh Taiwan itu akan memerlukan waktu.

    Ia mengimbau semua pihak untuk mengambil langkah guna mengurangi ketegangan dan mencapai perdamaian. “Pendekatan-pendekatan tidak perlu saling eksklusif, tapi harus dimulai dengan negosiasi,” kata Ma. Selain itu, Ma berharap penyelesaian bisa dilakukan secara trilateral antara Jepang, Cina, dan Taiwan.

    REUTERS | THE ECONOMIC TIMES | NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.