Malala Siap Jalani Operasi Rekonstruksi Tengkorak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Malala Yousufzai . dailymail.co.uk

    Malala Yousufzai . dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, London - Remaja putri Pakistan yang ditembak kepalanya oleh Taliban karena menyerukan pendidikan bagi anak perempuan, Malala Youzufzai, kembali masuk meja operasi. Ia akan menjalani operasi untuk merekonstruksi tengkoraknya.

    Gadis 15 tahun ini ditembak pada bulan Oktober tahun lalu dan dibawa ke Inggris untuk perawatan, keluar dari rumah sakit awal bulan ini untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Ia akan kembali ke rumah sakit dalam 10 hari ke depan untuk menjalani operasi yang dikenal sebagai titanium cranioplasty untuk memperbaiki daerah yang hilang dari tengkoraknya dengan pelat titanium khusus.

    Penembakan Yousufzai di kepala dari jarak dekat saat ia meninggalkan sekolah di lembah Swat, menarik kecaman internasional yang luas. Dia menjadi simbol  perlawanan terhadap upaya Taliban untuk menolak pendidikan bagi perempuan dan hak-hak lainnya. Lebih dari 250 ribu orang telah menandatangani petisi online menyerukan dirinya untuk dinominasikan menerima Hadiah Nobel Perdamaian.

    Dokter Inggris yang dirawat Yousufzai mengatakan peluru menghantam alis kirinya. Namun bukannya menembus tengkorak, peluru justru  "berjalan" di bawah kulit sepanjang sisi kepalanya dan masuk ke bahunya. Tulang tertipis dari tengkorak dan jaringan lunak di dasar rahangnya turut rusak. Tembakan itu juga menghancurkan gendang telinga yang berakibat tuli di telinga kirinya.

    Malala dirawat di Queen Elizabeth Hospital di Birmingham, Inggris tengah, yang telah merawat ratusan tentara terluka dalam konflik di Afghanistan dan Irak. Dave Rosser, direktur medis rumah sakit, mengatakan prosedur operasi rekonstruksi tengkorak yang rumit akan dilakukan oleh tim dengan 10 dokter dan perawat.

    AP | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.