Suriah di Ujung Tanduk

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lakhdar Brahimi. un.org

    Lakhdar Brahimi. un.org

    TEMPO.CO, New YorkPerang saudara Suriah selama hampir dua tahun kini mencapai tingkat mengkhawatirkan. Korban jiwa terus berjatuhan dengan beragam penyebab dan dengan eskalasi sangat tinggi. Krisis ini bahkan telah mencapai tingkat kengerian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Hal tersebut disampaikan utusan khusus PBB-Liga Arab, Lakhdar Brahimi, di depan sidang Dewan Keamanan PBB di Kota New York, Amerika Serikat, kemarin.

    “Tragedi ini tak memiliki akhir. Suriah akan hancur berkeping-keping. Hanya komunitas internasional yang bisa membantu, khususnya dan terutama Dewan Keamanan,” kata Brahimi dalam pertemuan tertutup dengan 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB.

    Kepada wartawan seusai pertemuan, Brahimi mendesak Dewan Keamanan segera menyatukan pendapat untuk menyelesaikan konflik berdarah di Suriah. “Mereka tidak bisa lagi mengatakan kami berbeda pendapat dan meminta tambahan waktu. Konflik harus diselesaikan sekarang,” ujar Brahimi, muram.

    Salah satu insiden terbaru adalah penemuan 78 jenazah pria muda di tepi Sungai Quwaiq, Kota Aleppo, sejak Selasa lalu. Tangan mereka terikat dan para korban itu tewas oleh tembakan di kepala. Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas pembantaian massal itu. Pihak pemerintah rezim Bashar al Assad maupun pemberontak justru saling tuding sebagai pelaku pembantaian.

    Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mendesak kedua pihak segera menghentikan kekerasan yang telah menewaskan lebih dari 60 ribu jiwa itu.

    “Atas nama kemanusiaan, saya memohon kedua pihak, terutama pemerintah Suriah, untuk menghentikan pembunuhan dan kekerasan,” Ban memohon dalam pertemuan negara donor Suriah di Kuwait.

    Pertemuan di Kuwait berlangsung atas permintaan PBB untuk menggalang dana bagi empat juta warga Suriah dan 700 ribu pengungsi di negara-negara tetangga Suriah. Badan dunia itu menargetkan dapat memperoleh US$ 1,5 miliar atau Rp 14.505 triliun dari pertemuan itu.

    Walaupun Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi masing-masing berjanji menggelontorkan dana sebesar US$ 300 juta atau Rp 2,9 triliun dalam pertemuan itu, situasi tidak langsung membaik. Pasalnya, bantuan tunai membutuhkan waktu agak lama sebelum dapat digunakan.

    REUTERS | AL-JAZEERA | BBC | SITA PLANASARI AQUADINI

    Berita Populer:

    Irwansyah Bebas, Raffi Ahmad: Yah Lu Pulang...

    Melongok Rumah Raffi Ahmad di Lebak Bulus

    KPK Tangkap Tangan Tiga Pelaku Suap

    Hary Tanoesoedibjo Ingin Satukan ISL dan IPL

    KPK Sita 2 Plastik Penuh Duit Pecahan Rp 100 Ribu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.