Kacamata, Bukti Hillary Clinton Masih Sakit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hillary Clinton saat memberi penjelasan tentang penyerangan di Benghazi, Libya, di depan anggota Senat.

    Hillary Clinton saat memberi penjelasan tentang penyerangan di Benghazi, Libya, di depan anggota Senat.

    TEMPO.CO, Washington - Hillary Clinton kembali mengenakan kacamata tebal setelah dinyatakan pulih dari gegar otak. Selama ini, ia selalu mengenakan lensa kontak.

    Menurut juru bicaranya, penggunaan kacamata itu adalah hasil dari efek yang tersisa dari masalah kesehatannya. "Dia belum boleh mengenakan lensa kontak untuk jangka waktu tertentu karena ada masalah yang tersisa yang berasal dari gegar otaknya," kata Philippe Reines. "Tapi dia baik-baik saja."

    Selama lebih dari lima jam dalam kesaksian di depan Kongres,  Hillary mengenakan kacamata dengan lensa kiri lebih tebal.

    Reines tidak menentukan apa jenis lensa yang dikenakan Hillary. Namun para ahli medis mengatakan lensa prisma fresnel adalah umum digunakan dalam kasus-kasus seperti yang dialami menteri luar negeri AS yang sebentar lagi lengser itu. Alur khusus dalam prisma mengubah cahaya yang memasuki mata, biasanya digunakan untuk mengobati penglihatan ganda.

    Dr James Liu, Center for Skull Base and Pituitary Surgery at the Neurological Institute of New Jersey, mengatakan bahwa gegar otak dan cedera kepala dapat menyebabkan penglihatan kabur atau ganda dalam beberapa kasus. Gangguan penglihatan ini biasanya berlangsung lama selama proses pemulihan.

    "Ada kemungkinan bahwa penglihatan kabur atau ganda dapat bertahan hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan," katanya. "Ini benar-benar tergantung pada tingkat keparahan cedera kepala," katanya.  Dalam kasus gegar otak, gejala-gejala ini biasanya bersifat sementara dan seiring waktu akan hilang.

    AP | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.