50 Perempuan Yaman Ditahan Karena Membunuh Suami  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • World Press Photo of the year 2012 karya fotografer Samuel Aranda, dari Spanyol untuk New York Times, memperlihatkan seorang perempuan memeluk saudaranya yang terluka dalam aksi protes melawan Presiden Saleh di Sanaa, Yaman, 15 Oktober 2011. Worldpressphoto.org

    World Press Photo of the year 2012 karya fotografer Samuel Aranda, dari Spanyol untuk New York Times, memperlihatkan seorang perempuan memeluk saudaranya yang terluka dalam aksi protes melawan Presiden Saleh di Sanaa, Yaman, 15 Oktober 2011. Worldpressphoto.org

    TEMPO.CO, Sanaa - Sekitar 50 perempuan Yaman ditahan pihak berwajib selama tahun 2012 karena pembunuhan. Hampir semuanya ditahan lantaran membunuh suaminya. Demikian keterangan Menteri Dalam Negeri Yaman yang diumumkan pekan ini.

    Menurut laporan yang disampaikan oleh kantor Kementerian Pusat Keamanan, kaum perempuan Yaman yang dipenjara berusia 25-50 tahun. Hampir semuanya terlibat dalam kejahatan dengan maksud membantu keluarganya.

    Laporan itu menyebutkan, rata-rata kejahatan itu timbul karena adanya kekerasan dalam rumah tangga dan emosi tak terkendali. Kejadian itu berlangsung di Mahweet, Taiz, Hajjah, Sanaa, Amran, dan Marib. Kendati demikian, jelas Menteri, jumlah perempuan yang menjadi korban pembunuhan dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah pelaku pembunuhan.

    Dr Mujib Abdul Bari, seorang psikiater dan ahli saraf, mengatakan kepada Al Arabiya.net, kekerasan secara konstan dan psikologis dapat dengan drastis mengubah perilaku seseorang.

    Kekerasan harian yang dialami seorang perempuan, Bari memaparkan, dapat membuat dia putus asa dan menimbulkan situasi tanpa harapan. Dalam kondisi seperti ini, tambahnya, perempuan lupa akan sikap kewanitaannya dan bisa saja membunuh pasangannya.

    Dia katakan, hampir semua kejahatan di Yaman berlangsung pada 7 Agustus 2012 di sebuah desa di Provinsi Marib. Di daerah ini, seorang perempuan berusia 40 tahun membunuh suami dan dua putranya, menyusul konflik rumah tangga.

    Menurut Bari, pemerintah Yaman seyogyanya tidak hanya menerbitkan angka statistik kejahatan, melainkan perlu juga meluncurkan program penyadaran yang dapat membantu kaum perempuan.

    Program tersebut diharapkan akan membantu kaum Hawa untuk mengetahui bagaimana cara mereka berkontribusi terhadap anggota masyarakat dan belajar untuk tidak menerima penghinaan, serta sanggup mengambil keputusan sendiri.

    "Pada kasus perempuan yang salah mengambil keputusan dalam pernikahan, mereka seharusnya mendapatkan solusi yang legal, seperti perceraian atau kembali ke keluarganya, yang dapat membantu guna mengatasi hal-hal yang sifanya psikologis," kata Bari.

    AL ARABIYA | CHOIRUL



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.