Pemenang Lotere Rp 2,2 Triliun Pensiun Jualan CD  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adrian Bayford bersama istrinya, Gillian. Dailymail.co.uk

    Adrian Bayford bersama istrinya, Gillian. Dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Suffolk - Adrian Bayford, 41 tahun, sebenarnya memiliki toko musik. Pria Inggris ini, bersama istrinya, ketiban durian runtuh, Agustus tahun lalu. Mereka menang lotere kedua terbesar Inggris. Nilainya 148 juta euro atau sekitar 2,2 triliun dalam rupiah.

    Dia pun bersumpah mempertahankan tokonya. Namun, hanya tahan dua pekan. Toko di Haverhill, Suffolk itu banyak didatangi peminta sumbangan. Orang datang dan pergi meminta belas kasihan.

    Capek menghadapi banyak gangguan, Bayford memilih untuk pensiun. Dia melego koleksi tokonya sebelum Natal. Hanya dengan 10 poundsterling, pembeli bebas memilih 20 CD musik bekas atau film DVD. Tokonya yang disebut Suffolk Music Centre akhirnya ditutup untuk selamanya pada akhir bulan lalu. Isinya sudah dilucuti semua dari rak.

    Tetangganya yang membuka toko di dekatnya mengatakan, Bayford mendapatkan banyak gangguan oleh orang-orang yang tahu dia mendapat lotere. "Mereka berusaha untuk mendapatkan uang darinya," kata tetangga itu.

    Bayford adalah mantan tukang pos. Tujuh belas tahun lalu ia memulai usaha menjual CD bekas di kios pasar sebelum kemudian membuka tokonya. Saat menang lotere, ia dan istrinya merayakannya dengan memesan piza dari Pizza Domino. Mereka memesan penerbangan easyJet untuk mengunjungi keluarganya di Skotlandia.

    Pasangan ini baru menarik 6 juta poundsterling untuk membeli rumah dan perkebunan di East Anglia. Dengan rezeki nomplok itu, Sunday Times memasukkan Bayford sebagai warga Inggris terkaya. Hartanya kini mendekati Jamie dan Jool Oliver, serta Eric Clapton.

    NUR ROCHMI | TELEGRAPH | DAILYMAIL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.