Suriah Mulai Pakai Senjata Kimia untuk Melawan Rakyat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Reruntuhan bangunan sekolah yang hancur di kawasan pemukiman di Homs, Suriah. REUTERS/Yazan Homsy

    Reruntuhan bangunan sekolah yang hancur di kawasan pemukiman di Homs, Suriah. REUTERS/Yazan Homsy

    TEMPO.CO, Damaskus - Sebuah video yang diunggah ke dalam website oleh kelompok oposisi menunjukkan gempuran pasukan Bashar al-Assad ke Kota Duma menggunakan senjata kimia.

    Namun, video yang disiarkan oleh kelompok oposisi itu belum bisa diverifikasi kebenarannya. Video itu menunjukkan adanya sejumlah kerusakan yang diakibatkan oleh senjata kimia.

    Kelompok oposisi mengatakan, serangan bahan kimia itu berasal dari sebuah jet tempur yang menerjungkan tangki berisi bahan kimia sehingga merusak air dan melepaskan racun mematikan.

    Pada siaran video lainnya, pasukan oposisi juga mengaku menemukan perlengkapan yang digunakan sebagai pelindung untuk melawan senjata kimia atau gas.

    Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, Sabtu, 8 Desember 2012, mengatakan, ada bukti bahwa pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia guna mengatasi konflik selama 21 bulan yang menyebabkan 42 ribu orang tewas.

    Suriah berkali-kali membantah menggunakan senjata kimia untuk menghadapi rakyatnya sendiri. Bantahan Suriah itu disampaikan pada Sabtu, 8 Desember 2012, kepada PBB. Menurutnya, Suriah tidak akan pernah memanfaatkan senjata kimia guna menumpaas pemberontak. Jika senjata ini mulai digunakan, ini adalah sinyal bagi AS untuk melakukan intervensi.

    AL ARABIYA | CHOIRUL

    Berita terpopuler lainnya:
    Andi Mallarangeng Terkenal Kikir
    Apa Untungnya Kalau Rhoma Irama Jadi Presiden

    Bupati Aceng Nikahi Shinta, Pestanya Meriah

    Abraham Sebut Andi Mallarangeng Kesatria Bugis

    Jasad Perawat Kate Middleton Akan Dibawa ke India


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.