Prancis Punya Masjid Gay Pertama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, Paris - Sebuah Masjid yang diklaim sebagai Masjid Kemerdekaan hadir di kawasan Paris, Prancis. Masjid ini dibuka oleh seorang gay Muslim bernama Ludovic-Mohamed Zahed. Ia mengelola sebuah ruangan kecil di dalam dojo Budha yang diubah menjadi tempat sholat.

    Kini mulai 30 November 2012, saban Jumat, ruangan tersebut akan terbuka untuk umat muslim Minoritas di Prancis. Minoritas dalam hal pilihan orientasi seksualnya seperti gay, transgender dan transeksual. Bahkan, Zahed menyatakan mendorong penggunaan Masjid yang setara antara pria dan wanita dalam satu saf atau wanita yang menjadi imam.

    "Ini adalah tempat yang aman bagi seluruh muslim dan siapapun yang ingin mencari momen spiritualitas dari pertukaran, berbagi dan refleksi dari aneka pertanyaan terhadap umat muslim di Prancis," kata Zahed, "Segala hal yang sulit kita temui di masjid lain di Prancis."

    Pria 35 tahun itu berharap bisa mengajak sekitar 20 umat untuk menyambangi masjid ini pada Jumat pertama di bulan Desember. Tapi, Ia berharap jumlahnya akan terus naik seperti organisasi yang dikelolanya Homoseksual Muslim di Prancis. Organisasi ini awalnya hanya diikuti enam orang, kini berkembang dengan anggota mencapai 325 orang.

    "Homoseksual atau trans-identitas tidak melawan alam, Aku rasa ini bukan kesalahan mereka, ini adalah bagian dari alam, karena tuhan menciptakan mereka seperti itu," ujar dia. Di masjid ini, Zahed melanjutkan, adalah tempat yang aman untuk mempertanyakan itu semua. Khususnya bagi mereka yang krisis identitas dan tak merasa nyaman di tempat peribadatan tradisional.

    "Apa yang mereka lakukan di luar komunitas Muslim," kata Dalil Boubakeur, Imam Masjid Besar Paris. Artinya, kata Dalid, masjid yang dikelola zahid bukanlah anggota mereka. Dan komunitas tidak akan merekomendasikan tempat ibadah Zahed bagi umat muslim lainnya. Sebab masjid itu dibangun atas dasar penghukuman oleh agama. "Suatu hal yang sangat prinsip," ujar dia.

    Zahed mengatakan masjid yang Ia bangun tak bertujuan untuk memicu debat nasional. Masjid-masjid inklusif yang dilakukan Zahed bukan lah pertama di dunia. Ada masjid serupa di Afrika Selatan, Amerika Serikat dan Eropa.

    REUTERS|DIANING SARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.