Cerita Warga Israel Soal Gaza ke Tempo I

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pelajar Palestina melihat gedung-gedung yang hancur dari sekolah mereka, yang hancur karena serangan udara Israel, di Kota Gaza, Sabtu (24/11). REUTERS/Ahmed Zakot

    Sejumlah pelajar Palestina melihat gedung-gedung yang hancur dari sekolah mereka, yang hancur karena serangan udara Israel, di Kota Gaza, Sabtu (24/11). REUTERS/Ahmed Zakot

    TEMPO.CO, Jakarta - Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata, Rabu, 21 November 2012, setelah pertempuran selama delapan hari, yang dianggap tersengit dalam empat tahun terakhir, meletup.

    Dengan gencatan senjata itu, Israel tidak melancarkan serangan udara ke Gaza. Sedangkan Hamas tidak meluncurkan roket ke Israel. Selama delapan hari peperangan, 130 warga Palestina tewas. Sedangkan dari pihak Israel, lima orang mati.

    Tempo mewawancarai warga Israel, David Degenerat, untuk mengetahui kondisi terkini di Israel dan Palestina, Rabu. Pria berusia 35 tahun ini tinggal di Tel Aviv dan merupakan dedengkot band hardcore Mahleket Hanikot Shotrim (Mahash). David juga pendiri label Boshet Records.

    Wawancara dilakukan melalui surat elektronik beberapa jam sebelum gencatan senjata disepakati. Berikut ini wawancaranya.

    Bagaimana kondisi di Palestina dan Israel setelah hari kedelapan serangan Israel ke Gaza?
    Tampaknya bakal ada gencatan senjata. Namun saya ingin menjelaskan kondisinya dalam beberapa hari terakhir. Saya merasa kehidupan di Israel, terutama bagi kami di Tel Aviv, tidak berubah. Hari ini (Rabu), ada pengeboman di sebuah bus di Tel Aviv. Kendati ada pengeboman, di daerah yang terletak sekitar 40 kilometer dari Gaza ini, kehidupan berjalan seperti biasa. Memang ada beberapa roket yang dilontarkan ke kawasan Tel Aviv dan Yerusalem. Namun itu tidak menyebabkan kerusakan.

    Jadi, selain sirene alarm yang menyalak sekali sehari dan banyak anak muda yang direkrut jadi tentara, kehidupan bergulir seperti biasa. (Tentu kami tidak direkrut. Kami menghindar dari wajib militer sejak beberapa tahun lalu). Di area sekitar Gaza, sekolah-sekolah ditutup dan warga sekitar bertahan di pengungsian. Namun, kondisi di Gaza jauh lebih buruk. Saya rasa perbedaan terbesar antara kami dan mereka (warga Palestina di Gaza) adalah warga di Israel selatan bisa bepergian ke utara. Bahkan ke luar negeri jika mereka mau atau bersembunyi di tempat persembunyian. Di Gaza, tidak ada pilihan seperti itu.

    Apa pendapat Anda mengenai serangan Israel terhadap Hamas?
    Serangan itu tai kucing. Gencatan senjata sudah disiapkan sebelum serangan. Saya rasa pemimpin Israel memutuskan untuk menyerang sekarang karena mereka ingin perang sebelum pemilihan umum pada Januari nanti. Mereka ingin mendapat dukungan warga Israel agar saat pemilu yang disorot masalah Palestina, bukan ihwal ekonomi dan lainnya.

    Musim panas lalu, (Perdana Menteri Israel Benyamin) Netanyahu selalu sesumbar untuk mengebom Iran. Dia memikirkan bagaimana kami melakukannya sebelum pemilu Amerika Serikat agar kami didukung Amerika. Namun, faktanya, itu tidak terjadi sebelum pemilu Amerika Serikat. Bukannya menyerang Iran, mereka justru membombardir Gaza. Itu tai kucing.

    KODRAT SETIAWAN

    Terpopuler:
    E-mail Internal Ungkap Detail Pemakaman Bin Laden

    Israel Mundur, Hamas Klaim Kemenangan

    Laporan dari Suriah, Dapat Tasbih dari Gerilyawan

    Laporan dari Turki, Selimut Hilang di Perbatasan

    Bendera Israel Digilas Ratusan Mobil di Bandung


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.