Kehidupan Jalur Gaza Mulai Normal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pemuda Palestina melempar batu ke tentara Israel yang membalas dengan gas air mata di Ofer, Tepi Barat, (18/11). Para pemuda Palestina memprotes penyerangan Israel ke Jalur Gaza. AP/Majdi Mohammed

    Seorang pemuda Palestina melempar batu ke tentara Israel yang membalas dengan gas air mata di Ofer, Tepi Barat, (18/11). Para pemuda Palestina memprotes penyerangan Israel ke Jalur Gaza. AP/Majdi Mohammed

    TEMPO.CO, Kota Gaza - Ahmed Zaqout, 32 tahun, memandang sedih toko komputer miliknya di Jalan Omar Al-Mukhtar, Jalur Gaza, Palestina, Kamis lalu. Rak pajangan hancur, komputer dan laptop pecah, sementara cakram padat berserakan di mana-mana. Seperti sebagian besar warga Jalur Gaza lainnya, Zaqout baru berani ke luar rumah dan mendatangi tokonya setelah delapan hari Israel membombardir wilayah itu dengan roket dan rudal.

    Pada Rabu lalu, Israel dan kelompok pejuang Palestina di Gaza mencapai kesepakatan gencatan senjata yang diperantarai Mesir. Kementerian Kesehatan Hamas, yang menguasai Gaza, mengatakan konflik dan adu tembakan rudal sejak 14 November lalu telah merenggut 164 nyawa warga Jalur Gaza dan enam warga Israel.

    "Kerugian saya tak ada artinya dibandingkan dengan mereka yang kehilangan keluarga mereka," kata Zaqout kepada Xinhua. "Dalam dua hari, kami akan memulai kembali usaha. Ini adalah Jalur Gaza, tempat kehidupan tidak pernah berakhir."

    Tepat di seberang toko Zaqout, satu kompleks kantor sipil pemerintah Hamas musnah dihantam enam bom dari pesawat F16 Israel. Namun gencatan senjata membuat kehidupan kembali menggeliat di Gaza. Toko-toko dan rumah makan kembali dibuka. Jalan-jalan yang sepekan terakhir hanya diisi ambulans dan kendaraan tempur mulai banyak dilalui warga yang lalu-lalang.

    Israel akhirnya setuju menghentikan serangan, baik dari udara, darat, maupun laut. Israel juga dikabarkan akan melonggarkan aturan bagi warga dan bahan makanan yang masuk ke Jalur Gaza meski blokade masih diberlakukan. Di sisi Palestina, kelompok Hamas akan menghentikan peluncuran roket ke wilayah Israel, termasuk menyerang personel tentara Israel di perbatasan.

    Namun Jumat kemarin, seorang warga Palestina tewas ditembak tentara Israel. Anwar Qdeih, 23 tahun, ditembak di bagian kepala di dekat tembok pembatas. Keluarga Qdeih mengatakan, ia berusaha mengibarkan bendera Hamas di wilayah terlarang sehingga ditembak tentara.

    Meski terjadi insiden, Profesor Gabriel Ben-Dor dari Universitas Haifa mengatakan gencatan senjata ini akan bertahan lama karena menyentuh banyak kepentingan. "Bagi Israel, gencatan senjata akan memberi keamanan bagi penduduk di selatan (Israel) dan memberi kesempatan bagi militer untuk mengembangkan persenjataan anti-roket," ujarnya.

    "Adapun untuk Hamas, ini memberi mereka legitimasi, pengakuan dunia internasional, dan dukungan makin besar. Perang ini bisa mereka jual sebagai sukses mereka atas Israel," Ben-Dor menambahkan.

    Baik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu maupun kelompok Hamas mengatakan siap menghormati gencatan senjata. Namun keduanya tetap melontarkan ancaman kembali melakukan serangan jika salah satu pihak melanggar perjanjian.

    “Pertempuran melawan musuh belum berakhir,” kata seorang pejuang dari Brigade Al-Quds yang mengenakan topeng saat konferensi pers di Kota Gaza, kemarin. “Kami bertempur untuk melindungi warga. Dan itu belum akan berhenti.”

    REUTERS | XINHUA | HURRIYET | RAJU FEBRIAN

    Terpopuler:
    E-mail Internal Ungkap Detail Pemakaman Bin Laden

    Israel Mundur, Hamas Klaim Kemenangan

    Laporan dari Suriah, Dapat Tasbih dari Gerilyawan 

    Laporan dari Turki, Selimut Hilang di Perbatasan 

    Laporan dari Suriah, Teh Penyelundup di Kafe Turki

    Bendera Israel Digilas Ratusan Mobil di Bandung

    Ingin Perbesar dengan Zaitun, ''Mr P'' Malah Hilang 

    Patung Liberty Tertutup untuk Umum 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.