Serangan Israel, Paniknya Pasien Al Shifa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah roket Iron Dome diluncurkan di Tel Aviv, untuk mencegat roket yang ditembakkan dari Gaza, Sabtu (17/11). AP/Oded Balilty

    Sebuah roket Iron Dome diluncurkan di Tel Aviv, untuk mencegat roket yang ditembakkan dari Gaza, Sabtu (17/11). AP/Oded Balilty

    TEMPO.CO, Gaza - Puluhan kamera media massa telah bersiap di Rumah Sakit Al Shifa, Kota Gaza. Bersama ratusan pasien, dokter, dan juru rawat, mereka menanti kedatangan delegasi menteri luar negeri dari Liga Arab.

    Kala itu, Selasa, 20 November 2012, jarum jam menunjukkan waktu makan siang. Sekitar pukul 12.00, selagi menunggu, pewarta dan penghuni rumah sakit saling berbincang. "Itu adalah hari paling tenang selama sepekan terakhir di Kota Gaza," tulis The New York Times.

    Di hadapan wartawan dan dokter, balita berusia 18 bulan, Hamad Lattif, tertidur lelap dalam pelukan ayahnya. Lattif merupakan korban tembak yang sedang menjalani perawatan.

    Ada juga bocah pembawa ketel dan termos yang sibuk mondar-mandir. Ia menjajakan teh serta kopi ke awak media dan tamu di rumah sakit itu. 25 sen harga per gelasnya.

    Berselang dua jam, sekitar pukul 14.00, terdengar suara tembakan rudal dari militan yang berada dekat rumah sakit. Menurut The New York Times, kemungkinan besar peluru kendali diarahkan ke Yerussalem.

    Tak lama, suara sirene menderu di udara. Suasana tenang pun berubah panik. Obrolan santai kemudian berganti teriakan. "Ketakutan akan serangan balik Israel menyergap semua orang. Mereka ngeri," tulis The New York Times.

    Benar saja. Tak lama berselang, ledakan demi ledakan terdengar jelas. Disusul dengan kedatangan enam ambulans yang memboyong beberapa mayat militan. Dua kepala di antara mayat itu terpenggal.

    Kemudian datang tiga ambulans lagi. Kali ini mereka mengangkut anak-anak yang tewas dan terluka. Dan ambulans tak bertahan lama, mereka langsung melaju lagi. Menjemput korban serangan.

    "Balas dendam, balas dendam," orang-orang yang membawa mayat dan korban luka berteriak. "Tentara Qassam membalas dendam ke kita!"

    Melihat kekacauan itu, wartawan dan warga yang sedang menunggu perwakilan Liga Arab langsung mengeluarkan kutukan. Sedangkan dari masjid yang letaknya dekat dengan rumah sakit, suara azan berkumandang. Ayat-ayat Al-Quran juga dilantunkan untuk menghormati para korban.

    Di tempat yang sama, juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, mengatakan telah terjadi pembantaian pada saat itu. Setidaknya 10 orang tercatat tewas. "Sebagian korban adalah anak-anak yang tengah bermain sepak bola," kata dia.

    "Hal ini menunjukkan isi pikiran tentara Israel, bagaimana caranya membunuh orang Palestina lebih banyak lagi."

    Al-Shifa adalah rumah sakit terbesar di Gaza. Selama sepekan terakhir, Al-Shifa menjadi pusat berkumpulnya masyarakat. Di antara bom-bom yang membombardir perkantoran dan perumahan, Al-Shifa menjadi surga langka bagi warga.

    Beberapa orang datang untuk menemani keluarganya, sedangkan sebagian menjadikan Al-Shifa sebagai tempat perlindungan. Dan bila pagi menjelang, tulis New York Times, puluhan orang berkerumun di belakang rumah sakit. "Mereka menanti mayat keluar untuk dimakamkan."

    NEW YORK TIMES | CORNILA DESYANA

    Baca juga:

    Indonesia, #Pray For Gaza
    Lewat Twitter, Jurnalis Beritakan Serangan Israel

    Ketemu Netanyahu, Hillary Bahas Gencatan Senjata

    Israel Serbu Gaza Tiap Kali Obama Terpilih

    Ini Situs-situs Israel yang Dilumpuhkan Anonymous


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?