Serangan Israel Bikin Gadis Ini Batal Menikah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemuda Palestina melempar batu ke tentara Israel yang melepaskan gas air mata di Ofer, dekat Tepi Barat, Palestina, (18/11). Para pemuda Palestina memprotes penyerangan Israel ke Jalur Gaza. REUTERS/Mohamad Torokman

    Pemuda Palestina melempar batu ke tentara Israel yang melepaskan gas air mata di Ofer, dekat Tepi Barat, Palestina, (18/11). Para pemuda Palestina memprotes penyerangan Israel ke Jalur Gaza. REUTERS/Mohamad Torokman

    TEMPO.CO, Tel Aviv - Serangan rudal dan rentetan bom tentara Israel ke Kota Gaza dalam seminggu ini telah menjadi mimpi buruk bagi warga setempat. Peristiwa ini ikut memupus harapan Yara Shaheen, seorang calon pengantin yang berencana menikah hari ini, Selasa, 20 November 2012.

    Firasat Shaheen soal gagalnya pernikahannya itu sudah dirasakan perempuan berusia 21 tahun in saat serangan rudal Israel membunuh pemimpin militer Hamas, Ahmed Jabari. Hari itu, ia sedang mencoba gaun pengantinnya untuk terakhir kalinya ketika kabar duka itu sampai ke ke telinganya.

    "Saya sedang di toko mengenakan gaun putih, ketika mereka membunuh Jabari. Saat mendengar kabar itu, saya tahu bahwa saya harus menunda pernikahan ini," ujar mahasiswi sastra Inggris Universitas Al-Azhar Gaza ini seperti dilansir The Jerussalem Post, Selasa, 20 November 2012.

    Tak menunggu lama, Shaheen segera melepas gaunnya dan pulang ke rumah. Ia langsung berdiskusi dengan keluarganya soal kemungkinan terburuk, yaitu menunda pernikahan dengan tunangannya, Hussam. Acara yang sedianya digelar di aula Love Boat, tak jauh dari pantai terbaik di Gaza, dengan mengundang 400 tamu itu, terpaksa harus batal.

    "Ini sangat mengecewakan. Saya merasa cemas sekaligus marah," ujarnya. Namun ia sadar, yang dilakukannya adalah yang terbaik. Jika ia memaksakan kehendaknya, perang bisa saja kembali terjadi di saat acara pernikahannya berlangsung.

    "Sekarang saya tidak terlalu peduli dengan pernikahan saya, yang terpenting orang-orang di sekitar saya selamat. Kami menonton dan melihat banyak anak kecil yang terbunuh, tak mungkin menggelar perayaan di saat seperti ini," kata dia, mahfum.

    Shaneen berasal dari keluarga berpendidikan yang tinggal di Gaza, tepatnya Tel el-Hawa. Ayahnya bekerja di Pusat Hak Asasi Palestina, sedangkan ibunya adalah seorang psikolog. Sama seperti warga Gaza lainnya, mereka putus asa mencari tempat yang aman untuk bertahan hidup dari konflik tersebut.

    Kemarin, sehari menjelang hari pernikahan yang seharusnya, ia mencari perlindungan bersama keluarganya. Shaheen tetap memegang harapan dan yakin bahwa ada alasan misterius di balik batalnya pernikahan dan peperangan yang terjadi di Gaza saat ini. Meski dia sadar, alasan itu hanya Tuhan yang tahu.

    MUNAWWAROH

    Berita terpopuler lainnya:
    Roket dari Mesir Hantam Israel
    Peretas Bocorkan Data 5.000 Pegawai Israel

    Pejabat Israel Bersumpah Lakukan ''Holocaust''

    Fatah-Hamas Sepakat Bersatu Melawan Israel

    Survei: 90 Persen Yahudi Israel Dukung Perang Gaza

    28 Sukarelawan Indonesia Bertahan di Gaza


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.