Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Terhenti

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota Mer-C terus memantau perkembangan anggota Mer-C Tim Pelayaran Gaza di kantor Mer-c, Jakarta, Selasa (1/6). TEMPO/Subekti

    Seorang anggota Mer-C terus memantau perkembangan anggota Mer-C Tim Pelayaran Gaza di kantor Mer-c, Jakarta, Selasa (1/6). TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO , Jakarta:Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, terhenti sementara akibat hujan roket yang dilakukan Israel. "Sejak 5 hari kemarin para relawan sudah stop bekerja karena serangan Israel," kata anggota Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Joserial Jurnalis, di kantor MER-C, Jakarta, Senin, 19 November 2012.

    Joserizal mengatakan lokasi seputar rumah sakit merupakan salah satu titik paling berbahaya. Rumah sakit hanya berjarak 2 kilometer dari perbatasan Palestina-Israel. Dari laporan para relawan MER-C di Gaza, sedikitnya 30 bom berjatuhan di seputar rumah sakit, sejak Israel menggelar Operasi Pilar Pertahanan, Rabu lalu.


    "Relawan masih menghubungi kami untuk mengabarkan keadaannya hingga tadi malam. Mereka mengatakan bom yang dijatuhkan Israel berjarak 50 sampai 100 meter dari RSI," katanya.


    MER-C merintis pembangunan rumah sakit traumatic centre and rehabilitation itu setelah melihat rumah sakit di Gaza kewalahan sejak serangan Israel pada 2008 lalu. Rumah sakit dibangun dari donasi masyarakat Indonesia sebesar Rp 21,9 miliar dari total kebutuhan sekitar Rp 60 miliar.

    Ketua Divisi Konstruksi MER-C Faried Thalib konstruksi mengatakan tahap konstruksi yang dimulai Mei 2011 sudah selesai sejak empat bulan lalu. Namun baru rampung 1 tahun mendatang. “Akhir 2013 sampai awal 2014 sudah bisa diselesaikan,” kata dia.

    Saat ini sebanyak 28 orang anggota tim MER-C masih bertahan di Gaza. Selain memberi perawatan medis kepada korban, mereka melanjutkan pembangunan rumah sakit. Para relawan berlindung di basement rumah sakit tempat menyimpan obat-obatan.

    Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah meminta para relawan itu untuk keluar dari Israel. Tapi mereka bergeming. "Justru saat orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, kami lebih terpanggil," kata Ketua Presidium MER-C Sarbini Abdul Murod.

    Ia juga meminta pemerintah segera bersikap atas agresi Israel kali ini. Selain memberi pernyataan protes dan bantuan logistik, pemerintah juga perlu memberikan dukungan moral. "Menteri atau wakil datang saja ke perbatasan," katanya.

    HARUN MAHBUB

    Berita Terpopuler
    Pacar Sewaan Ada di Jepang 

    Peretas Bocorkan Data 5.000 Pegawai Israel 

    AS-Inggris Peringatkan Risiko Perang Darat Israel 

    Bapak-Anak Merampok Tujuh Bank

    Roket dari Mesir Hantam Israel  




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.