Amerika Latin Tinjau Kebijakan Perang Ganja  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paket mariyuana yang berhasil di sita di Tijuana, Meksiko. AP/Guillermo Arias

    Paket mariyuana yang berhasil di sita di Tijuana, Meksiko. AP/Guillermo Arias

    TEMPO.CO, Meksiko - Kelompok pemimpin negara-negara Amerika Latin bersepakat meninjau kembali strategi perang terhadap obat-obatan terlarang di negaranya, termasuk melawan ganja. Hal itu disampaikan menyusul kebijakan dua negara bagian Amerika Serikat terhadap legalitas penggunaan mariyuana di wilayahnya.

    Para pemimpin negara Amerika Latin itu berasal dari Meksiko, Belize, Honduras, dan Kosta Rika. Mereka mengatakan dalam sebuah deklarasi, Senin, 12 November 2012, keputusan negara bagian Amerika Serikat, Colorado dan Washington, yang melegalkan penggunaan mariyuana, memiliki dampak penting bagi upaya mengakhiri penyelundupan obat-obatan terlarang.

    Pekan lalu, 6 November 2012, dalam sebuah pemungutan suara, Election Day, Colorado memutuskan bahwa negara bagian tersebut meloloskan regulasi yang isinya melegalkan penggunaan alkohol secara bebas, termasuk mariyuana.

    Presiden Meksiko Felipe Calderon mengatakan seusai pertemuan dengan Presiden Honduras Porfirio Lobo, Presiden Kosta Rica Laura Chinchilla, dan Perdana Menteri Belize Dean Barrow, bahwa keputusan negara melegalkan penggunaan mariyuana perlu segera ditanggapi dengan menganalisis implikasi kebijaksaan publik dan kesehatan bangsa mereka.

    "Legalisasi penggunaan ganja oleh negara bagian Amerika Serikat merupakan perubahan paradigma pada sistem hukum internasional saat ini," ujar Calderon.

    Meksiko merupakan salah satu negara penyuplai kebutuhan ganja ke Amerika Serikat, sedangkan Honduras da Belize sempat berhasil menghentikan pengiriman kokain dari Amerika Selatan.

    AL JAZEERA | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?