Repotnya Punya Dua Istri di Suriah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintas di depan Masjid Nur Al Suhada di distrik Asha'ar, Aleppo, Ahad 28 Oktober lalu. Pertengahan Oktober lalu, tentara pemerintah menjatuhkan bom di masjid ini. TEMPO/Pramono

    Warga melintas di depan Masjid Nur Al Suhada di distrik Asha'ar, Aleppo, Ahad 28 Oktober lalu. Pertengahan Oktober lalu, tentara pemerintah menjatuhkan bom di masjid ini. TEMPO/Pramono

    TEMPO.CO, Azaz - Posisi dua tenda di pengungsian warga Suriah di perbatasan Kota Azaz-Kilis, Turki itu saling memunggungi. Yang satu menghadap ke barat, lainnya menghadap ke timur. Padahal, pintu tenda-tenda lain yang berjejeran selalu menghadap ke arah yang sama.

    Di dua tenda itulah hidup dua istri Mustafa Abass, 49 tahun, pengungsi asal Marea, kota kecil di dekat Azaz. Di tenda yang satu, Mustafa menempatkan istri pertamanya, Sabha, 50 tahun. Di sampingnya, tinggal istri mudanya, Wafaa Soleh, 35 tahun. “Kalau tidak dibikin begitu, keduanya pasti ribut melulu,” kata Mustafa kepada Tempo, Selasa lalu.

    Mustafa bercerita, Sabha sebenarnya merupakan istri kakak lelakinya. Setelah kakaknya meninggal, Mustafa mengambil Sabha yang sudah memiliki tiga anak sebagai istri. Kemudian, sopir bus ini menikah lagi dengan Wafaa. Dari Sabha, Mustafa mendapat lima anak lagi. Sedangkan Wafaa memberinya tujuh anak.

    Sebagian besar anak-anak Mustafa berusia sebaya. Paling tua berusia 29 tahun. Pria yang menggunakan tongkat karena kakinya patah setelah kecelakaan motor ini mampu mengingat semua nama anaknya.

    Menurut Mustafa, rumah dua istrinya di Marea pun bersebelahan, dengan jarak pemisah sekitar 20 meter. Memang, jarak antar-rumah di Marea tak terlalu rapat. Dengan jarak itu saja, kata Mustafa, Sabha dan Wafaa kerap bertengkar. “Saya memang tidak menyukai Wafaa,” kata Sabha.

    Sejak enam pekan lalu, Mustafa mengungsi dari Marea ke kawasan perbatasan. Rumahnya rusak karena terkena bom dari pesawat pemerintah. Untuk membawa keluarganya ke pengungsian, Mustafa harus dua kali bolak-balik. Sesuai prinsip first come first served, dengan mobil sewaan, ia membawa Sabha dan anak-anaknya lebih dulu, lalu balik menjemput Wafaa.

    Mustafa memilih tinggal bersama istri tuanya. Musababnya, di tenda itu hanya ada delapan orang, sebagian anaknya dan menantunya. Sedangkan di tenda Wafaa, ada sepuluh orang, juga diisi anak dan menantunya. Dengan ukuran tenda hanya 3x3 meter, “Ya tentu saya pilih yang lebih longgar,” katanya diiringi tawa.

    Tentu saja pilihan Mustafa ini tak disukai Wafaa. Nyaris tiap kali Mustafa tinggal di tenda Sabha, Wafaa marah. Kalau sudah begini, Mustafa punya jurus jitu. "Saya tinggalkan saja keduanya," katanya sambil kembali tertawa.

    Penanggung jawab pengungsi di kawasan yang ditempati Mustafa, Ismail Alsnne, mengatakan sebelumnya di kawasan itu juga ada satu pria membawa tiga istrinya. Tiap hari, keributan di antara tiga istri yang tendanya berdekatan itu terus terjadi. “Untung mereka sudah pindah ke Turki,” kata Ismail.

    PRAMONO

    Berita Terpopuler:
    Atut-Jokowi Bertemu, Wali Kota Tangerang: ''EGP''

    Badan Kehormatan Minta Dahlan Cek Daya Ingatnya

    Sebentar Lagi, Indonesia Kebanjiran Tank Leopard

    Ahok Tertusuk Saat Naik Reog Ponorogo

    Mabes Polri Tak Tahu Pengawal Ketua KPK Mundur


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.