Setelah Badai Sandy, Banyak Penjarahan di New York

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita membeli lampu bertenaga baterei di New York (31/10). Listrik di kota tersebut pada akibat badai Sandy yang diiringi hujan deras. REUTERS/Carlo Allegri

    Seorang wanita membeli lampu bertenaga baterei di New York (31/10). Listrik di kota tersebut pada akibat badai Sandy yang diiringi hujan deras. REUTERS/Carlo Allegri

    TEMPO.CO, New York - Badai Sandy yang menimpa Kota New York memberikan efek parah. Ratusan rumah dan bangunan rusak, toko kelontong tutup, jalanan ditutupi banjir, pompa bensin kehabisan persediaan, listrik padam, dan stok makanan menipis. Begitulah kondisi di New York, Amerika, pada Kamis, 1 November 2012.

    Kehancuran kota megapolitan itu terjadi akibat terjangan badai Sandy sejak Senin dinihari, 29 Oktober 2012. Dan dampak dari semua itu adalah munculnya penjarahan di banyak tempat.

    Kata pemilik restoran Edi & The Wolf di Manhattan, Wolfgang Ban, masyarakat tidak terlalu khawatir akan kerusakan yang ditimbulkan Sandy. Mereka tetap merasa aman selama matahari ada di atas kepala. Tapi, begitu malam menjelang, semuanya mendadak berubah.

    "Warga takut datangnya penjarah ke rumah mereka," ujar Ban di Chicago Tribune, Kamis, 1 Oktober 2012.

    Menurut Ban, penjarahan terjadi karena tidak banyak polisi yang bertugas di lapangan setelah kedatangan Sandy. Buktinya, kata dia, sejumlah sukarelawan organisasi Guardian Angels melakukan patroli di Manhattan. Guardian Angels adalah organisasi yang mengerahkan orang sipil tanpa senjata untuk menjaga keamanan lingkungan.

    "Keberadaan Guardian Angels itu menunjukkan rendahnya kendali polisi pada saat ini," ujar Ban.

    Untuk wilayah Queens saja, pengadilan telah mendakwa lebih dari 15 orang dengan tuduhan penjarahan. Sedangkan seorang pria didakwa telah mengancam orang lain dengan pistol. Ancaman itu terjadi ketika si pria antre membeli gas di pompa bensin.

    "Ia ancam pengemudi lain agar bisa memotong lajur antrean," kata jaksa Richard Brown, dikutip Reuters.

    Hingga hari keempat sejak hantaman Sandy, Eqecat, perusahaan rekayasa bencana alam, memperkirakan besarnya kerugian mencapai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 192 triliun. Semua kerugian itu ditanggung perusahaan asuransi. Sedangkan kerugian dari segi ekonominya mencapai US$ 50 miliar, setara dengan Rp 481 triliun.

    "Kerugian ekonomi ini dua kali lipat dari perkiraan awal," demikian pernyataan perusahan itu.

    Berdasarkan perkiraan itu, Sandy pun masuk kategori bencana alam yang menimbulkan kerugian terbesar. "Serupa dengan badai Katrina pada 11 September 2005 dan badai Andrew pada 1992," bunyi pernyataan perusahaan institut asuransi.

    CORNILA DESYANA

    Berita lain:
    Setelah Badai Sandy, Bahan Bakar Langka
    Hantaman Sandy Ibarat Tragedi Titanic di Daratan
    Israel Akui Bunuh Wakil Yasser Arafat
    SBY Pidato di Gedung Parlemen Inggris


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.