Rohingnya Kembali Memanas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa dari Dompet Dhuafa berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Thamrin, Jakarta, Kamis (26/7). Dalam unjuk rasa tersebut mereka menyerukan agar pemerintah Indonesia menggalang solidaritas dunia untuk perdamaian dan mendesak ASEAN untuk aktif dalam persoalan Rohingnya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Massa dari Dompet Dhuafa berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Thamrin, Jakarta, Kamis (26/7). Dalam unjuk rasa tersebut mereka menyerukan agar pemerintah Indonesia menggalang solidaritas dunia untuk perdamaian dan mendesak ASEAN untuk aktif dalam persoalan Rohingnya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kekerasan komunal antara kelompok muslim dan Buddha di bagian barat Myanmar kembali pecah. Sedikitnya 67 orang terbunuh dalam kekerasan komunal Jumat kemarin itu. Media negara tersebut menyebutkan setidaknya 2.000 rumah dan delapan bangunan keagamaan hancur dalam kasus kekerasan tersebut. Hampir 100 orang pun terluka.

    Juru bicara negara bagian Rakhine, lokasi bentrokan, sempat mengungkapkan jumlah korban tewas sebanyak 112, namun direvisi karena ada kekeliruan penghitungan.

    Sementara itu, situasi kawasan Ramree sudah tenang pada Sabtu pagi ini. Namun, bentrokan kemarin membuat warga menjadi waswas. "Warga sangat takut oleh serangan kilat komunitas muslim karena kehadiran aparat keamanan sangat sedikit. Kami tidak merasa aman. Kami ingin Bengali pindah dari komunitas Rakhine,'' kata Kyaw Win, 30 tahun, warga setempat.

    Warga Rakhine lebih memilih menggunakan nama Bengali untuk Rohingnya, yang mereka katakan sebagai satu kelompok etnis. Kyaw Win mengatakan beberapa rumah telah dibakar, namun dilaporkan tak ada korban jiwa.

    Pada Juni lalu, kekerasan etnis di Rakhine menewaskan 90 orang dan menghancurkan lebih dari 3.000 rumah. Sejak itu, sekitar 75 ribu orang tinggal di penampungan. Pemerintah setempat pun telah memberlakukan jam malam di beberapa daerah sejak Juni, dan diperluas sejak terjadinya kekerasan susulan.

    Sampai kini ketegangan masih menghantui daerah tersebut. Pemerintah setempat dianggap gagal menemukan solusi jangka panjang bagi dua komunitas di daerah.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan demokrasi yang masih muda di Myanmar bisa "rusak berat" oleh bentrokan. "Ketidakpercayaan melebar di antara masyarakat sedang dieksploitasi oleh unsur-unsur militan dan kriminal, menyebabkan skala besar hilangnya nyawa manusia," kata juru bicara Ban Ki-Moon, Sekjen PBB, Jumat lalu.

    AL JAZEERA | WANTO

    Berita Terpopuler
    Fitnah, Kata Cina Soal Artikel Kekayaan Wen Jiabao

    Eksekutif Minyak Inggris Ditembak Mati di Belgia

    Ikan Fukushima Terkontaminasi Nuklir

    Medali Olimpiade yang Dicuri Dikembalikan Via Pos

    Berencana Santap Tersangka, Polisi Ini Diadili

    Dalam Sepekan, Empat Pria Tibet Bakar Diri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.