Australia Hukum Berat Gembong Manusia Perahu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal yang membawa pencari suaka menghantan karang di Pulau Natal, Australia.  REUTERS/Network 7 via Reuters TV

    Kapal yang membawa pencari suaka menghantan karang di Pulau Natal, Australia. REUTERS/Network 7 via Reuters TV

    TEMPO.CO, Perth - Pengadilan Perth, Australia, memvonis Ali Khorram Heydarkhani dengan hukuman 14 tahun penjara atas aksinya mengorganisir perahu untuk para pencari suaka ilegal. Heydarkhani, 41 tahun, keturunan Iran-Australia, di antaranya mengorganisir kapal yang tenggelam dan menewaskan 50 pencari suaka pada 15 Desember 2010 di Pulau Christmas, Australia.

    Heydarkhani mengaku telah mengatur lima kapal suaka dari Indonesia ke Australia antara Juni 2010 hingga Januari 2011. Dia ditangkap di Indonesia pada Januari tahun lalu dan diekstradisi ke Australia untuk menjalani pengadilan.

    Hakim Stephen Scott mengatakan Heydarkhani menunjukkan sikap tidak peduli terhadap manusia lain karena termotivasi mendapatkan uang. Heydarkhani, yang lahir di Iran, adalah mantan pengungsi yang menjadi warga negara Australia pada tahun 2004.

    Heydarkhani terbukti mengorganisir perahu dengan kondisi minim dan tidak memiliki peralatan keselamatan yang cukup. Pada peristiwa 15 Desember 2010, penjaga pantai menyelamatkan 42 korban, tetapi diduga  50 orang  telah tenggelam. Para penumpang berasal dari  Iran, Irak, dan pencari suaka Kurdi yang menuju Australia melalui Indonesia.

    Pengacara Heydarkhani, Ian MacFarlane, mengatakan hukuman berat yang diterima kliennya dimaknai untuk menghindari hal yang sama terjadi.  “Agar menjadi pelajaran untuk siapa pun yang akan berpartisipasi dalam membawa para pencari suaka secara ilegal ke Australia,” kata Ian kepada ABC News, Senin, 22 Oktober 2012.

    Pulau Christmas terletak sekitar 2.600 kilometer dari Australia, tetapi hanya berjarak sekitar 300 kilometer dari sebelah selatan Indonesia. Para pencari suaka kerap melalui Indonesia karena merupakan wilayah terdekat dari Australia.

    Rubrik Investigasi Majalah Tempo Edisi 11 Juni 2012 pernah memuat laporan berjudul “Wajah Sindikat Manusia Perahu” dan menemukan organisasi penyelundup manusia ini bekerja sejak di negara asal dengan tarif sekitar Rp 186 juta.  Para pencari suaka ilegal yang berangkat dari Pakistan, Afganistan, Iran, Irak, dan lainnya menempuh perjalanan ke Malaysia lalu menyeberang ke Indonesia dan Australia. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

    Para pencari suaka ilegal ini berkontak dengan para penyelundup melalui perantaraan telepon seluler untuk mendapatkan arahan rencana keberangkatan. Nelayan dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, kerap diajak bekerja sama oleh para sindikat penyelundup untuk mengantar ke Pulau Christmas.

    ABC NEWS | YULIAWATI

    Berita Terpopuler:
    Basuki: Kami Tidak Keteteran Hadiri Acara  

    Surya Paloh dan Edwin Rebutan Gunung Emas 

    Tiga Jam Menanti Jokowi 

    Pengamat Sarankan Jokowi Delegasikan Wewenangnya

    Penambang Liar Berebut Emas dengan Surya Paloh


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?