Tembok Malu, Simbol Korupsi Cina  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/David Gray

    REUTERS/David Gray

    TEMPO.CO, Jakarta - Namanya Tembok Malu (China's Wall Shame). Banyak foto-foto wajah pejabat yang terpampang di dinding itu. Bukan karena prestasi, tetapi korupsi. Potret-potret itu semuanya dicat dalam warna pink kemerahan seperti warna uang 100 yuan sebagai simbol korupsi. Wajah mereka digantungkan dan dijejer rapi di sebuah studio kecil di Beijing.

    Perupa Zhang Bingjian memulai proyek ini tiga tahun lalu. Ia tergerak setelah menyimak sebuah laporan dari televisi pemerintah Cina tentang pejabat yang mengambil suap.

    Zhang sangat marah dengan tingkat korupsi di negaranya itu. "Tanpa uang di Cina, Anda akan memiliki masalah," ujarnya. Sampai-sampai orang-orang telah kehilangan kepercayaan, kecuali pada uang.

    Untuk menggarap proyek instalasinya ini, Zhang mempekerjakan beberapa asisten untuk menelusuri kasus-kasus korupsi dan pejabat yang telah dipenjara karena kasus itu di laman maya. Sejak proyek ini dimulai, Zhang menemukan 1.600 gambar.

    Awal tahun ini Perdana Menteri Wen Jiabao memperingatkan korupsi sebagai ancaman terbesar bagi kekuasaan Partai Komunis. Masyarakat Cina membaca headline tentang kampanye antikorupsi tiap hari.

    Bahkan, bulan lalu, Bo Xilai, politikus di jantung skandal politik terbesar Cina, telah diusir dari Partai Komunis. Ia dituduh menerima suap.

    Penggunaan Internet di Cina juga semakin memainkan peran sangat aktif. Bulan Agustus lalu, seorang pejabat yang difoto tersenyum di tempat kecelakaan bus, dikritik. Para blogger marah dengan sikap seperti tak peduli itu. Mereka mulai menyelidikinya.

    Mereka menemukan foto-foto pejabat ini dalam sebuah pertemuan saat sedang memakai jam tangan mahal. Para blogger berkomentar, jam tangan itu terlalu mahal untuk dibeli dengan gaji resmi. Pihak berwenang kemudian mengumumkan bahwa pejabat ini telah dipecat.

    Dalam sebuah sistem di mana para pejabat hanya bertanggung jawab kepada partai dan bukan kepada publik, memang sangat sulit melihat bagaimana korupsi dapat dibasmi. "Tidak mungkin mengatasi korupsi dalam sistem tanpa badan independen," ujar analis China, Willy Lam.

    BBC | ISMI WAHID

    Berita Terpopuler
    Ini Akibatnya Jika Bercinta Sambil Mengemudi

    Parlemen Libya Lengserkan Perdana Menteri

    Lukisan dari Darah Pelukisnya Dipamerkan di AS

    Bom Mobil Hantam Kantor Polisi di Damaskus, 1 Mati



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.