Gara-gara The Joker, Pemilik Bioskop pun Dituntut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berkumpul di luar bioskop yang menjadi lokasi penembakan oleh pria misterius saat pemutaran perdana film Batman The Dark Knight Rises, di Aurora, Denver, Colorado AS, Jumat (20/7) dini hari. AP Photo/ Karl Gehring,The Denver Post

    Warga berkumpul di luar bioskop yang menjadi lokasi penembakan oleh pria misterius saat pemutaran perdana film Batman The Dark Knight Rises, di Aurora, Denver, Colorado AS, Jumat (20/7) dini hari. AP Photo/ Karl Gehring,The Denver Post

    TEMPO.CO, Aurora, Colorado - Tiga penonton yang mengalami luka-luka karena ditembaki oleh James Holmes saat menonton pemutaran perdana film The Dark Knight Rises di The Century 16 di Aurora, Colorado, Denver, menuntut pemilik bioskop secara hukum.

    Holmes yang ditahan sejak Juli secara brutal menembaki penonton di The Century 16, Aurora, pada pemutaran perdana film The Dark Knight Rises. Pada pemutaran perdana film itu di tengah malam pada 20 Juli 2012, mantan mahasiswa neuro science ini menembaki penonton. Akibatnya, 12 orang meninggal dan 58 orang lainnya terluka.

    Tiga penonton ini menuntut pemilik bioskop, Cinemark USA, karena sudah dianggap gagal menjaga keamanan.

    Kantor Biro Hukum Keating, Wagner, Polidori, and Free mengatakan, jika prosedur keamanan tersedia, begitu juga dengan peralatan dan penjaga keamanan yang sigap, bisa mencegah atau mendeteksi orang-orang bersenjata yang akan menjalankan aksinya di dalam gedung bioskop.

    Sayangnya, manajemen Cinemark belum dapat dihubungi.

    Dalam tuntutan yang diajukan ke Pengadilan Federal Denver pada Jumat, 21 September 2012, ketiga penonton itu: Joshua Nowlan, Denise Traynom, dan Brandon Axelrod, mengklaim bahwa pemilik bioskop seharusnya menyadari adanya potensi aktivitas kriminal, baik di dalam gedung bioskop maupun di sekitarnya, termasuk upaya kriminal lain dan perampokan yang melibatkan anggota-anggota geng.

    Dalam tuntutannya, mereka juga menyebutkan, meskipun bioskop itu memutar film perdana pada tengah malah dengan begitu banyak penonton, tak ada seorang pun petugas keamanan yang tampak berjaga-jaga menjaga keamanan.

    Nowlan mengalami luka-luka pada kaki kiri dan tangan kanan, bahkan nyaris putus akibat diterjang peluru. Sedangkan Traynom terkena tembakan di pantat dan Axelrod kena tembak di lutut kanan dan pergelangan kaki.

    Dalam sidang Holmes sebelumnya, jaksa penuntut umum menyebutkan bahwa Holmes membeli tiket untuk masuk ke gedung bioskop yang memutar film terakhir dari trilogi film Batman karya Christopher Nolan itu.

    Holmes kemudian keluar lewat pintu keluar, yang menjadi jalur keluar-masuk Holmes dengan mudah. Ia balik lagi masuk ke gedung bioskop dengan mengenakan baju antipeluru dan membawa senjata berbagai jenis. Begitu ada di dalam gedung bioskop, ia segera menembaki penonton secara brutal.

    Pembela Holmes yang ditunjuk oleh negara, Daniel King, dalam pembelaannya mengatakan bahwa kliennya mengalami gangguan kejiwaan dan berusaha meminta bantuan sebelum melakukan penembakan itu.

    Wali Kota Aurora, Steve Hogan, mengatakan, tahun depan, Cinemark akan membuka kembali The Century 16, yang ditutup sejak penembakan brutal itu.

    “Gedung bioskop ini sudah menjadi bagian dari masyarakat di sini selama bertahun-tahun,” kata Hogan. “Saya yakin Cinemark akan tetap berempati pada korban, keluarga korban, karyawan mereka, dan masyarakat di sini melalui proses remodeling dan reopening bioskop itu.”

    REUTERS | GRACE S. GANDHI

    Berita Terkait:
    The Joker Colorado Sempat Mendaftar ke Klub Tembak

    Kejutan Batman untuk Korban Penembakan Joker

    10 Tuduhan Baru untuk "The Joker" Colorado
    Christian Bale Tengok Korban Penembakan The Joker

    The Joker Colorado Beli Senjata Usai Gagal Ujian

    Tragedi Colorado Picu Pembelian Senjata


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.