Dalam 7 Bulan, 3 Kasus Penembakan WNI di Malaysia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga Abdul Kadir Jailani, Tenaga Kerja Indonesia asal Nusa Tenggara Barat yang tewas di Malaysia. TEMPO/Supriyantho Khafid

    Keluarga Abdul Kadir Jailani, Tenaga Kerja Indonesia asal Nusa Tenggara Barat yang tewas di Malaysia. TEMPO/Supriyantho Khafid

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam tujuh bulan terakhir setidaknya ada tiga kasus tewasnya Warga Negara Indonesia (WNI) di tangan polisi diraja Malaysia. Kasus pertama terjadi pada akhir Maret, kasus kedua pada pertengahan Juni, dan kasus terbaru terjadi pada pertengahan September.

    Pada 24 Maret lalu tiga orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Barat tewas ditembak polisi Diraja Malaysia. Ketiga orang itu adalah Herman asal Desa Pancor Kopong Kecamatan Pringgasela Selatan, Abdul Kadir Jaelani asal Desa Pancor Kopong Kecamatan Pringgasela Selatan, dan Mad Noon asal Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela.

    Ketiga TKI itu tewas akibat tembakan oleh polisi Malaysia di daerah Port Dickson. Mereka dituduh hendak mencuri rimah dan dianggap berbahaya karena membawa parang.

    Selang dua bulan kemudian, pada Selasa 19 Juni 2012 Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia menerima informasi dari Interpol Malaysia ihwal tewasnya tiga TKI di Malaysia. Ketiga orang itu adalah Sumardiono, 34 tahun, asal Lumajang; Masudi, 28 tahun, asal Bangkalan; dan Hasbullah, 25 tahun, asal daerah belum diketahui.

    Ketiganya diduga hendak merampok rumah. Mereka sempat terlibat kejar-kejaran dengan polisi sebelum akhirnya tewas ditembak.

    Kasus penembakan terakhir terjadi pada Jumat pekan lalu. Lima warga negara Indonesia yang menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit di negara Malaysia tewas ditembak.

    Fitria Susanti, menjelaskan, kelima orang itu adalah Osnan, Hamid, Diden, Noh, dan Joni. Fitria yang juga istri salah satu korban, Osnan menduga organ tubuh korban telah diambil untuk diperjualbelikan. “Ini bekas sayatan, jadi pasti hati dan paru-paru diambil,” kata Fitria.

    Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene tak mengangkat telepon ketika dihubungi pada Rabu 12 September 2012 malam. Pesan pendek yang dikirim juga tak direspons. Tempo juga belum berhasil menghubungi petugas komunikasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia.

    ANANDA BADUDU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.