Serangan 9/11 Dimanfaatkan Calon Presiden Amerika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria berjalan di antara hampir 3.000 bendera sebagai bagian dari peringatan 10 tahun serangan 11 September di St Louis (11/9). Pada tragedi ini, lebih dari 3000 orang diperkirakan tewas. AP/Jeff Roberson

    Seorang pria berjalan di antara hampir 3.000 bendera sebagai bagian dari peringatan 10 tahun serangan 11 September di St Louis (11/9). Pada tragedi ini, lebih dari 3000 orang diperkirakan tewas. AP/Jeff Roberson

    TEMPO.CO, New York - Sebelas tahun silam, telah terjadi peristiwa mengerikan dengan ditandainya serangan terhadap menara kembar di New York, yang menyebabkan 3.000 jiwa melayang dan ribuan lainnya cacat. Usai serangan teroris 11 September 2001 itu, kini seluruh warga New York dan penduduk dunia lain di beberapa negara akan memperingati serangan mematikan yang dipusatkan di Ground Zero, New York.

    Memorial 9/11 direncanakan mulai pada pukul 08.30 waktu setempat dengan cara mengheningkan cipta. Presiden Barack Obama tidak menghadiri langsung upara peringatan di Ground Zero, New York, melainkan memperingati kejadian pilu tersebut di Washington DC.

    Sedangkan penantang utama dalam pemilihan presiden November mendatang, Mitt Romney, akan berpidato tentang serangan teroris itu di National Guard Association Conference di Reno.

    Peristiwa 9/11, selain mengakibatkan 3.000 jiwa melayang dan membuat ribuan orang lainnya menderita akibat cacat atau kehilangan orang-orang terkasih, ternyata dimanfaatkan pula oleh calon Presiden Amerika Serikat untuk merebut simpati masyarakat.

    Sebut saja, misalnya, Barack Obama dari Partai Demokrat dan John McCain yang mewakili Partai Republik ketika bersaing memperebutkan kursi calon presiden empat tahun silam. Demikian juga dengan kandidat sebelumnya, yakni George W. Bush dan John Kerry.

    Pendek kata, setiap peristiwa yang mendapatkan perhatian besar masyarakat digunakan oleh kedua partai untuk mengambil simpati pemilih. "9/11 digunakan oleh kedua calon memperoleh keuntungan politik," kata para pengamat di Amerika Serikat.

    Tak hanya itu, mereka menjelaskan, ketika operasi SEAL berhasil menangkap dan membunuh pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden, Obama memanfaatkannya untuk menaikkan popularitas. "Para pemimpin Republik menuduh Obama menggunakan kematian Bin Laden untuk mengerek popularitasnya," ujar pengamat.

    Di New York, konflik politik tak kalah seru, terutama menyangkut pembangunan Museum 9/11. Wali Kota Bloomberg, Gubernur Cuomo, dan Gubernur Christie berdebat soal isu dana pembangunan. "Semua itu tak lain demi popularitas mereka," kata pengamat.

    Perdebatan demi kepentingan politik terus berlanjut, namun di bagian terpisah, peristiwa pilu sebelas tahun silam tak bakal hilang di ingatan para korban dan keluarganya. Ketika matahari terbenam petang nanti, Tribute in Light bakal menyala ke atas langit, yang bisa terlihat dari jarak 50 kilometer. Nyala lampu ini sebagai bentuk penghormatan kepada para korban serangan 9/11.

    EXAMINER | CHOIRUL

    Berita lain:
    Wanita Yahudi Diimbau Bekukan Sel Telurnya

    Bunuh Pacar karena Ditulari HIV

    Xanana Akui Bagi-bagikan Proyek ke Temannya

    Taliban Ancam Bunuh Pangeran Harry

    Warga Amerika Danai Politikus Anti-Islam Belanda

    Australia "Buang" Pencari Suaka ke Pulau Nauru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.