India Kirim Pasukan Tambahan ke Gujarat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Ahmedabad, India:Menyusul meningkatnya korban yang tewas dalam pertikaian antar sekte di Gujarat, India mengirim pasukan tambahan ke wilayah tersebut, Minggu (3/3). Hal itu dilakukan untuk mengamankan kantung-kantung wilayah yang rawan kekerasan karena korban yang jatuh dari kalangan Hindu-Muslim telah mencapai 500 orang akibat pertikaian itu. Kantor Berita AFP melaporkan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusuhan lanjutan di negara yang telah mengalami kerusuhan komunal terburuk dalam sepuluh tahun terakhir ini. Meski begitu, Menteri Pertahanan George Fernandes mengatakan, pasukan lainnya tengah dikirim untuk mengamankan wilayah-wilayah lainnya di negara itu. Itu karena tindak kekerasan itu telah melebar pula ke daerah pedesaan. Sebelumnya ia juga telah mengatur penurunan 3.000 pasukan di empat kota sejak Jumat (1/3) lalu. Para petugas ruang pengawasan kepolisian di ibukota Gujarat menyebutkan, sekitar 427 orang telah terbunuh sejak pembunuhan massal yang dilakukan oleh 58 aktivis Hindu, Rabu (27/2) lalu. Dari jumlah itu, sekitar 225 orang terbunuh di Ahmedabad, dan 73 lainnya tewas di tangan polisi. Pihak kepolisian memang diinstruksikan melaksanakan tembak di tempat saat pemberlakuan jam malam di wilayah yang mengalami kerusuhan terparah sejak Kamis (28/2). Hingga saat ini, jam malam masih berlaku di sebagian tempat di Ahmedabat. Akan tetapi, situasi perlahan mulai berangsur normal kembali. Berbagai kendaraan maupun para penduduk telah tampak di jalan-jalan yang masih dipenuhi bangkai-bangkai mobil, batu, dan pecahan kaca serta puing-puinng lainnya sisa kerusuhan tempo hari. "Saat ini, sebagian besar wilayah Gujarat sangat tenang,” ujar salah seorang petugas di ruang pengawasan. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri L.K. Avani telah tiba pula di Ahmedabad, Minggu (3/3) untuk mengunjungi sejumlah daerah yang mengalami kerusuhan terparah. Pertikaian antar sekte yang terjadi di Gujarat ini tak urung menyulut keprihatinan yang mendalam. Tak kurang, PM Atal Behari Vajpayee, melalui saluran TV nasional mengatakan bahwa tindak kekerasan antar sekte itu merupakan "aib bangsa" yang mencoreng citra India di dunia. Meskipun kekerasan telah berlalu, namun tak urung rasa permusuhan dan dendam tetap menggantung di benak mereka yang menjadi korban. "Saya takkan melupakan atau memaafkan (kejadian itu). Tak seorang pun yang telah melalui pengalaman semacam itu dapat memaafkan,” ujar seorang pedagang muslim, Bismullah Shamshudin, yang menyaksikan lima orang tetangganya dibacok hingga tewas. Selain itu, AFP mensinyalir pula kemungkinan keterlibatan polisi dalam kerusuhan yang terjadi. Banyak penduduk muslim — korban terbesar dalam kerusuhan itu — mengatakan, aparat kepolisian berdiri bersama para perusuh, atau bahkan dalam beberapa kasus malah menyemangati para pelaku kekacauan itu, sehingga mereka leluasa menjarah dan membakar seluruh keluarga hidup-hidup. Menanggapi memburuknya relasi sosial di kalangan Hindu-Muslim pasca kerusuhan itu, Fernandes menandaskan, "Angkatan bersenjata tidak dapat menambal kembali hubungan itu. Tentara hanya dapat melepaskan tembakan untuk mengontrol situasi.” (Dara Meutia Uning)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.