Bom Bunuh Diri Tewaskan Ulama Sufi Rusia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) bersama ulama sufi Rusia Mufti Ildus Faizov, Juli 2012. REUTERS/Alexei Nikolskyi/Ria Novosti/Pool

    Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) bersama ulama sufi Rusia Mufti Ildus Faizov, Juli 2012. REUTERS/Alexei Nikolskyi/Ria Novosti/Pool

    TEMPO.CO, Moskow - Seorang ulama sufi Rusia, Said Afandi, tewas dalam sebuah serangan bom bunuh diri di Republik Dagestan. Demikian menurut laporan kantor berita Rusia, Rabu, 29 Agustus 2012.

    Afandi, seorang pemimpin sufi di kawasan, dan lima pengikutnya tewas, Selasa malam waktu setempat, 28 Agustus 2012, akibat bom bunuh diri seorang perempuan di rumah Afandi di Desa Chirkei.

    Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Identitas pelaku juga belum diketahui, tetapi serangan ini bisa dikaitkan dengan ketegangan antara kelompok sufi dan wahabi di Dagestan.

    Selama ini, Afandi kerap mengritik secara terbuka kelompok wahabi. Pada Juli 2012 lalu, seorang pemimpin senior muslim di Republik Tatarstan ditembak mati sedangkan kepala mufti republik cedera setelah sebuah bom menghantam mobilnya.

    Dalam sebuah kunjungan ke Tatarstan, Selasa, 28 Agustus 2012, Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan penghargaan kepada mufti yang cedera, Ildrus Faizov, dan kerabatnya yang juga ulama setempat, Valiullah Yakupov.

    Pada kesempatan itu, Putin menyerukan agar hubungan antaretnis berlangsung harmonis seraya mengatakan, "Wahai para ekstrimis, Anda tak sanggup memecah belah persatuan, multinasional, dan kekuatan bangsa Rusia sebab demi kebenaraan dan keadilan jutaan rakyat tidak takut pada apapun. Mereka tak dapat diintimidasi dan mengetahui harga perdamaian."

    Pembunuhan terhadap Afandi langsung meningkatkan ketegangan di Dagestan, tetangga Chechnya yang mengobarkan peperangan lebih dari 20 tahun melawan pasukan Rusia demi kemerdekaan.

    Bentrok dengan kelompok garis keras dan serangan terhadap polisi hampir terjadi setiap hari di Dagestan. Para pejuang muslim mengatakan, perjuangan mereka adalah mendirikan negara Islam di sepanjang garis perbatasan provinsi selatan Rusia. Aksi mereka dipengaruhi oleh muslim Republik Chechnya, Dagestan, dan Ingushetia di Kaukasus Utara.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Berita internasional lainnya:
    Sipilis Jangkiti Para Aktor Film Porno AS

    Biaya Hidup Putin Rp 20 Triliun per Tahun

    Carrefour Cabut dari Singapura Tahun ini

    Gulingkan Presidennya, Wanita Togo Mogok Seks

    Kenapa Ada Ritual Foto ''Maut'' Bergaun Pengantin 

    Filipina Tak Mau Lagi Kirim PRT ke Luar Negeri

    Prancis Buka Penyelidikan Pembunuhan Arafat

    Prancis Buka Kasus Kematian Yasser Arafat

    Mitt Romney Dikukuhkan Jadi Capres Partai Republik

    Bom Mobil Hantam Kuburan Damaskus, 12 Tewas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?