Pemerintah Kolombia Berdamai dengan FARC  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Kolombia Juan Manuel Santos. AP/Victor R. Caivano

    Presiden Kolombia Juan Manuel Santos. AP/Victor R. Caivano

    TEMPO.CO, Bogota - Lelah berperang, pemerintah Kolombia akhirnya menempuh jalan damai dengan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), sebuah kelompok pemberontak terbesar di negeri itu.

    "Pemerintah akan mengadakan pembicaraan kedua dengan kelompok gerilyawan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lima dekade," kata Presiden Juan Manuel Santos kepada media di Bogota, Senin, 27 Agustus 2012.

    Dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi dari Istana Presiden, Santos mengatakan pemerintahnya akan belajar dari kesalahan para pemimpin sebelumnya. Mereka mencoba merangkul namun gagal mencapai gencatan senjata yang langgeng dengan FARC.

    "Sejak hari pertama pemerintahan saya, saya telah menyelesaikan kewajiban konstitusional untuk menemukan kedamaian. Dengan begitu, kami telah mencapai kata sepakat dengan FARC untuk mengakhiri konflik," ujarnya.

    Dia menambahkan, militer akan tetap melanjutkan operasi di setiap sentimeter wilayah Kolombia sementara pembicaraan terus berlanjut.

    Perdamaian dengan pemberontak FARC bakal mencatakan nama Santos dalam sebuah sejarah sebagai pemimpin yang berhasil mengakhiri konflik yang telah menewaskan puluhan ribu orang selama bertahun-tahun.

    Menanggapi hasil wawancara Reuters dengan pimpinan pemberontak kedua terbesar di Kolombia yang diterbitkan Senin, 27 Agustus 2012, Santos mengatakan Tentara Pembebasan Nasional atau yang dikenal dengan sebutan ELN bisa saja diikutsertakan dalam pembicaraan damai.

    "Saat ini ELN melalui sebuah badan internasional mengatakan bahwa mereka tertarik terlibat dalam pembicaraan damai untuk mengakhiri kekerasan," kata Santos dalam pidatonya.

    "Saya katakan bahwa kelompok itu, yang memiliki kesamaan kerangka kerja, mereka juga dapat ambil bagian dalam upaya mengakhiri konflik."

    Seorang sumber intelijen Kolombia mengatakan kepada Reuters, pembicaraan perdamaian pertama yang disepakati oleh Santos adalah dia tidak akan mengekstradisi pemberontak FARC ke negara mana pun yang melakukan tuntuan hukum.

    Sumber ini melanjutkan, pembicaraan kemungkinan akan berlangsung di Kuba atau Norwegia. "Presiden Amerika Serikat Barack Obama menaruh perhatian pada proses perdamaian ini," ujar sumber.

    Santos, yang menjalani separuh dari empat tahun masa jabatannya, mengatakan dia akan mempertimbangkan perundingan perdamaian dengan FARC hanya jika ia yakin bahwa kelompok yang memperoleh dana dari perdagangan obat bius ini bernegosiasi dengan iktikad baik.

    REUTERS | CHOIRUL

    Berita Terpopuler Lainnya:
    Bercinta dengan Pasien, Perawat Ini Diskors

    Kagawa ''Buta'' Instruksi Ferguson

    Suami Diam-diam Jadi Donor Sperma, Istri Menggugat

    Survei: Wanita Malaysia Paling Tak Setia

    Istri Wayne Rooney Berpesta Ketika Suaminya Sakit


    Waroeng Steak & Shake;

    Sempat Diramal Tidak Sukses

     

    Sempat diramalkan tidak akan sukses oleh tetangga di awal rintisannya, steak racikan pasangan suami-isteri asal Yogyakarta ini telah berkembang dengan jaringan outletnya.

     

    September 2000, Jody Brotosuseno dan Aniek Siti Hariyani memutuskan untuk memulai bisnis baru. Teras rumahnya di Jalan Cendrawasih, Demangan, Yogyakarta mereka sulap menjadi kedai kecil yang menawarkan makanan steak dan shake. Meski fasilitasnya sangat sederhana—hanya tersedia 20 kursi dengan 5 buah meja makan, serta 5 buah hot plate—pasangan yang biasa dipanggil Jody dan Aniek ini memberanikan diri menawarkan menu yang tidak biasa di lingkungannya itu.

     

    Agar sedikit berbeda dari warung-warung makan di sekitarnya, sejoli itu memberi nama usahanya dengan “Waroeng Steak & Shake.”

     

    Para tetangga yang menyaksikan usaha Jody dan Aniek itu mengkerutkan dahi. Mereka menyangsikan usaha itu bertahan lama. “Wah, Anda tidak akan bertahan dengan bisnis ini,” begitu kata-kata yang didengar Jody dan Aniek dari tetangganya yang sudah lebih awal membuka usaha makanan di lokasi yang sama.

     

    Kata-kata itu sempat tertanam di pikiran dan hati pasangan suami-istri tersebut. Lagipula, omzet yang didapat tidak lebih dari Rp 30 ribu per hari. Satu tahun, usaha itu tidak mengalami perkembangan berarti. Kata-kata itu terus terngiang, dan sempat membawa ragu di dua pasangan ini. Mereka sekuat tenaga menolak untuk terus mengingat kata-kata itu.

     

    Jody dan Aniek memang pernah gagal di bisnis sebelumnya. Usaha parcel musiman ditinggalkan, dan sempat juga keduanya menerima pesanan kaos partai. Sisa uang sekitar Rp 8 juta dari bisnis itu yang kemudian dihabiskan untuk memulai Waroeng Steak & Shake.

     

    Satu hal yang tidak diketahui para tetangganya yang menyaksikan bisnis steak-nya itu adalah pengetahuan dua pasangan tersebut di bisnis sejenis. Jody dan Aniek sempat menanamkan uangnya di bisnis orang tua Jody. Mungkin sebagian orang sudah tahu kalau disebut bisnis keluarga Jody itu. Yaitu Obonk Steak.

     

    Resto yang menyediakan makanan steak lengkap ini sudah lebih dahulu berkembang pesat di lokasi-lokasi pusat tepian kota. Harga murah sesuai segmen yang disasarnya membuat bisnis ini berkembang pesat dengan jaringan yang sangat besar.

     

    Jody dan Aniek secara diam-diam ingin meniru sukses bisnis keluarganya. Mereka kemudian memulainya tidak dari yang besar, tetapi dari yang kecil. Sehingga, meski dalam satu tahun pertama bisnisnya yang berlokaasi di teras rumahnya itu, Jody dan Aniek menyimpan obsesi yang besar untuk mengembangkan bisnisnya bisa sebesar dan seluas jaringan bisnis keluarganya itu.

     

    Wahyu Nugroho Wijaya, Kepala Divisi Marketing Waroeng Steak & Shake menjelaskan, sukses bisnis Jody dan Aniek itu tidak lepas dari pengalaman dan pengetahuan keduanya terhadap bisnis keluarga di Obonk Setak. Mereka kemudian menerapkan manajemen yang lebih profresional serta menjalani bisnis tersebut dengan kegigihan yang tinggi. Obonk Steak merupakan milik orang tua Jody. Ditempat inilah, menurut Wahyu, keduanya belajar ilmu manajemen hingga akhirnya bertekad untuk mandiri.

     

    Aniek dan Jody membuktikan usaha yang dibangun oleh pasangan suami-istri bisa berkembang pesat. Memang sih, tidak sedikit, usaha kecil yang dibangun oleh sejoli pasangan hidup menuai sukses. Umumnya, mereka memulai dari nol, dari kegagalan satu ke kegagalan yang lain. Jody dan Aniek, suami-istri yang tinggal di Jogjakarta ini membuktikan chemistry sebagai pasangan suami-istri dengan kegigihan mengembangkan usaha mereka.

     

    Satu hal yang membuat bisnis ini sukses adalah kemampuan Jody dan Aniek merubah stigma steak sebagai makanan yang mahal. Asal tahu saja, stigma makanan mahal sudah sangat melekat pada makanan eropa ini. Menurut Wahyu, Jody dan Aniek berhasil meracik strategi, bagaimana makanan eropa ini dapat disajikan dan dinikmati oleh semua golongan lapisan masyarakat dengan harga yang sangat terjangkau, sambil tetap menjaga kualitas dan cita rasa yang khas. “Waroeng Steak & Shake bisa berkembang karena berhasil memenuhi ekspektasi masyarakat yang ingin mencicipi masakan ‘kelas atas’ dengan harga yang terjangkau tanpa meninggalkan kualitas,” kata Wahyu.

     

    Kata “Waroeng” yang diletakkan sebagai nama resto di bisnis ini sengaja dipilih untuk menghilangkan kesan mewah dan mahal. Sehingga konsumen tidak takut untuk mencoba menu yang di tawarkan. Dengan konsep tersebut, konsumen Waroeng Steak & Shake dapat merambah berbagai segmentasi lapisan di masyarakat dan menjadi tujuan utama bila masyarakat ingin makan steak.

     

    Rasa yang sesuai dengan lidah orang Indonesia, serta harga yang terjangkau ini yang menurut Wahyu, menjadi hal yang paling diingat oleh pelanggan Waroeng Steak. “Rata-rata pengunjung per hari 800 – 1000 orang untuk tiap outlet dengan kapasitas tiap outletnya 100 – 250 orang,” tambahnya.

    ­

    Setelah berkembang dengan cukup baik, pengelola Waroeng Steak & Shake melakukan brand awareness untuk menguatkan citra Waroeng Steak & Shake di masyarakat. Peningkatan kualitas menu serta pelayanan juga menjadi titik fokus yang selalu dijaga untuk selalu memberikan kepuasan bagi konsumen. Selain itu, juga dilakukan program Corporate Social Responbility (CSR) dari Waroeng Steak & Shake sehingga masyarakat semakin mengenal Waroeng Steak & Shake melalui berbagai cara.

     

    Kesuksesan Waroeng Steak asal Yogyakarta ini terbukti mampu menyebarkan jaringan outletnya ke seluruh Indonesia. Jumlah karyawannya mencapai 1000 orang. Selain itu, tumbuh juga unit usaha yang lain, seperti Bebaqaran, warung ikan bakar (cabang Yogyakarta dan Surabaya), FESKUL, outlet makan yang menggabungkan duet maut antara Waroeng Steak & Shake dengan Bebaqaran (cabang Yogyakarta, Malang, Bandung, Jakarta) dan ‘Soccer Futsal’ (Yogyakarta).

     

    Meski bernama “Warung”, manajemen Waroeng Steak & Shake dijalankan secara profesional. Setiap karyawan dididik untuk memperdalam sisi spiritual di samping melaksanakan pekerjaan secara profesional seperti beribadah tepat waktu, kajian agama rutin setiap hari, serta pengajian rutin dengan warga sekitar outlet. Selain membiayai tiga karyawannya untuk naik haji setiap tahun, Waroeng Steak juga menggelar undian untuk umroh gratis tiap tahun.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.