Amerika Sadap Telpon dan Email Dewan Keamanan PBB

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, The Observer, London:Amerika Serikat sedang melancarkan 'operasi intelejen' terhadap anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York Amerika, sebagai upaya negara ini memenangkan voting yang menguntungkan rencananya melakukan serangan militer ke Irak. Detail rencana operasi penyadapan secara agresif, yang termasuk pencegatan jalur telepon di rumah dan kantor serta email anggota delegasi negara-negara Dewan Keamanan, dibocorkan dalam sebuah dokumen yang diperoleh The Observer Inggris, salah satu harian terkemuka di Inggris. Dokumen itu ditandatangani oleh pejabat tinggi di National Security Agency--sebuah lembaga intelejen Amerika yang bertugas untuk melakukan intersep jalur komunikasi di seluruh dunia--dan disebarkan kepada agen senior di organisasi ini atau lembaga intelejen negara-negara sekutu sebagai input. Memo itu menggambarkan perintah kepada staf agen intelejen untuk meningkatkan operasi pemantauan yang secara khusus diarahkan kepada anggota Dewan Keamanan PBB (kecuali Amerika dan Inggris). Operasi ini bertujuan untuk menyuplai data intelejen dari menit ke menit bagi pejabat tinggi di pemerintahan Bush berkaitan dengan isu voting serangan militer ke Irak di PBB. Berdasarkan dokumen rahasia itu, anggota-anggota delegasi yang menjadi target pemindaian adalah dari negera Angola, Kamerun, Chili, Meksiko, Guinea, dan Pakistan di markas besar PBB di New York--yang disebut 'Kelompok Enam'. Suara negara-negara ini menjadi rebutant oleh negara-negara pro perang yang dipimpin oleh Amerika dan Inggris, serta negara yang menolak perang seperti Perancis, Cina dan Rusia. Dalam rinciannya, dokumen itu berisi perintah untuk memperoleh informasi tidak hanya mengenai bagaimana tiap delegasi itu akan bersikap terhadap resolusi kedua mengenai Irak, tapi juga mengenai 'kebijakan-kebijakan', 'posisi negoisasi', 'kecenderungan aliansi', dan 'ketergantungan', serta hal lainnya yang dapat digunakan oleh pembuat kebijakan di Amerika untuk mengantisipasi voting dan meniadakan kejutan yang tidak dikehendaki. Memo yang dibuat pada 31 Januari ditanda tangani oleh Frank Koza--kepala staf di 'Regional Target' di NSA, sebuah divisi yang bertugas untuk memata-matai negara-negara yang dipandang strategis dan penting bagi kepentingan nasional Amerika. Koza memaparkan bahwa informasi yang diperoleh akan digunakan oleh 'Quick Response Capability' (Respon Gerak Cepat) - terhadap anggota kunci delegasi. Bocornya operasi intelejen Amerika ini terjadi pad pekan ketika Hans Blix--ketua tim inspeksi senjata PBB--akan membuat laporan finalnya kepada Dewan Keamanan. Sumber-sumber di Washington yang dekat dengan operasi ini mengatakan bahwa telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan pejabat pemerintahan Bush mengenai perlu tidaknya melakukan pemantauan yang demikian intens. Mereka khawatir operasi seperti ini dapat memunculkan konsekuensi yang serius jika terbongkar. Budi Riza ---Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.