Aliansi Liberal Resmi Menangkan Pemilihan Libya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejuang revolusioner berdiri di antara mayat pendukung Qadhafi yang tewas di Sirte, Libya (23/10). Pemimpin baru Libya akan mengumumkan kemerdekaan pada hari Minggu dan menyelenggarakan pemilu. AP/Manu Brabo

    Pejuang revolusioner berdiri di antara mayat pendukung Qadhafi yang tewas di Sirte, Libya (23/10). Pemimpin baru Libya akan mengumumkan kemerdekaan pada hari Minggu dan menyelenggarakan pemilu. AP/Manu Brabo

    TEMPO.CO, Tripoli—Aliansi Pasukan Nasional, partai sekuler gabungan dari sejumlah partai dan kelompok masyarakat, meraih kursi terbanyak dalam pemilihan Kongres Umum Nasional Libya, yakni sebanyak 39 kursi. Meski menjadi pemenang, Aliansi tidak meraih mayoritas kursi di Kongres sehingga ia harus berkoalisi dengan partai lain atau pihak independen.

    Kemenangan Aliansi disampaikan oleh Komisi Pemilihan di Tripoli, ibu kota Libya Rabu 18 Juli 2012 terkait dengan hasil akhir pemilihan. Partai peraih kursi terbanyak kedua diraih oleh partai politik yang dibentuk oleh Persaudaran Muslim yakni partai Keadilan dan Pembangunan dengan meraih 17 kursi. Partai-partai kecil lainnya meraih 24 suara.

    Diluar dugaan, partai Islam Nasional yang dibentuk oleh mantan pelaku jihad dan pemimpin pemberontakan anti rezim Muammar Qadhafi, Abdel-Hakim Belhaj, tidak mendapat satu kursi pun di Kongres.

    Kongres Umum Nasional berisikan 200 kursi dengan rincian 80 kursi untuk partai peserta pemilihan dan 120 kursi untuk individu independen. Kongres akan membentuk pemerintahan baru untuk menggantikan pemerintahan sementara Libya (NTC). Kongres akan menjalankan sekitar satu tahun periode transisi, hingga digelar pemilihan parlemen berdasarkan konstitusi baru.

    Komisi juga menjelaskan, hanya satu perempuan yang memenangkan pemilihan untuk kursi independen. Berbeda dengan kursi untuk partai politik, sebanyak 33 perempuan meraih kursi untuk partai.

    Mengenai koalisi, juru bicara aliansi, Hamada Siyala, mengatakan Partai Islam Nasional tidak akan ditinggalkan dalam koalisi nanti. "Kami meminta pembentukan sebuah pemerintahan bersatu. Tahapan mendatang adalah satu negara yang meminta semua upaya dan partisipasi dari seluruh warga Libya. Kami mempertimbangkan peserta lain sebagai mitra, bukan musuh," kata Siyala kepada Associated Press.

    Sejumlah analis mengatakan, warga Libya mencari figur yang kuat untuk memimpin negara. Dari hasil pemilihan menunjukkan mereka mengakui Mohammad Jibril, pemimpin aliansi dan mantan perdana menteri sementara sekitar delapan bulan saat pemberontakan meletus di Libya.

    AP | AL JAZEERA | MARIA RITA

    Dunia Populer:
    Misteri Terjawab, Wanita Itu Istri Jong Un

    Video Mayat Qaddafi Dimain-mainkan Beredar

    Merkel: Larangan Sunat Bikin Jerman Jadi Olokan

    Jalan Terkecil di Dunia Terancam

    Pewaris Tetra Pak Ditahan Terkait Kematian Istri

    Keluarga Kerajaan Spanyol Dipaksa Ikut Berhemat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.