Orang Tua Di Asia Habiskan Banyak Duit untuk Les

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, belajar bahasa Cina tiap hari di rumahnya. (DailyMail)

    Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, belajar bahasa Cina tiap hari di rumahnya. (DailyMail)

    TEMPO.CO , Manila -Kebiasaan les privat ternyata banyak dilakukan orang Asia. Sebuah kajian dari Bank Pembangunan Asia dengan Universitas Hong Kong menyebutkan miliaran dolar digelontorkan para orang tua agar anaknya bisa les privat. Meski belum ada bukti keefektivannya, tapi anggaran biaya les selalu meningkat tiap tahunnya.

    "Pendidikan bayangan" adalah bisnis yang berkembang tak hanya di negara kaya di Asia tapi di negara-negara berkembang Asia. Para orang tua berusaha agar anaknya bisa sukses dengan pendidikan yang cukup sedini mungkin.

    Catatan Bank Pembangunan Asia (ADB), hampir 9 dari 10 anak SD di Korea Selatan sudah les privat. Sementara di India, angkanya tak beda jauh. Sekitar 6 dari 10 anak SD di Bengali barat India pun sudah harus ikut les privat.

    "Proporsi di negara lain memang rendah, tapi rata-rata daerahnya terus meluas dan angkanya bertambah," tulis hasil kajian ADB di tahun 2011. Hasil ini tentunya menjadi alarm bagaimana sistem pendidikan di negara tersebut berjalan. Sebab kenapa orang tua memilih les privat, tentunya karena pendidikan di sekolah dirasa kurang.

    Les tambahan sebenarnya bertujuan untuk membantu siswa yang terlambat belajarnya. Tapi bagi orang tua di Asia, les justru menjadi cara agar anak mereka tidak menyia-siakan waktu luang. Akibatnya seperti yang ditulis kajian ADB, waktu untuk olahraga dan bergaul jadi berkurang. Sehingga bisa menyebabkan tekanan sosial.

    ADB mencatat rata-rata biaya les privat di Korea Selatan setara dengan 80 persen biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk pendidikan umum. Jepang menghabiskan sekitar 12 miliar dolar Amerika (Rp 113,2 triliun) biaya tambahan pada 2010. Adapun Singapura sekitar 680 juta dolar Amerika (Rp 6,4 triliun) untuk kebutuhan yang sama.

    Di Hong Kong, sebanyak 85 persen siswa sekolah menengah sudah mengikuti les privat. Bahkan promosi jasa les privat sudah menggurita di negara kota ini. Iklannya kursus pendidikan ini muncul di televisi, surat kabar hingga gambar di belakang bus.

    Kajian ini meminta para pemangku kepentingan dunia pendidikan Asia untuk melihat temuan mereka. Sebab menjamurnya permintaan dan jasa les privat menjadi pertanda ada yang salah dengan sistem pendidikan. "Mereka harus bertanya kenapa les privat menjadi tempat yang utama," tulis kajian itu. Seharusnya les adalah tambahan dan hanya mengisi kekurangan saja.

    JAPANTODAY|DIANING SARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.