Tunisia Dukung Investigasi Kematian Yasser Arafat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Palestina memperingati lima tahun meninggalnya Presiden Palestina,  Yasser Arafat di Rafah, Israel, Selasa (10/11). Arafat meninggal dalam usia 75 tahun pada 11 November 2004 di sebuah rumah sakit di Paris. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    Warga Palestina memperingati lima tahun meninggalnya Presiden Palestina, Yasser Arafat di Rafah, Israel, Selasa (10/11). Arafat meninggal dalam usia 75 tahun pada 11 November 2004 di sebuah rumah sakit di Paris. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    TEMPO.CO, Tunis - Tunisia, Kamis 5 Juli 2012, menyerukan kepada Liga Arab agar segera mengadakan pertemuan penting untuk membahas dokumen yang menyebutkan bahwa kematian pemimpin Palestina, Yasser Arafat, akibat diracun.

    Permintaan ini mendapat sambutan positif dari Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Mansouri, seperti disampaikannya kepada radio Suara Palestina. "Pemerintahan di Ramallah mendukung inisiatif Tunisia."

    "Kami juga meminta Komite Investigasi Internasional untuk membentuk badan serupa yang pernah dibentuk untuk menyelidiki kematian (Perdana Menteri Lebanon) Rafiq Hariri sehingga kami dapat memecahkan banyak masalah atas sejumlah pertanyaan yang tak terjawab," kata dia.

    "Kami ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan otoritas Palestina dapat memberikan jawaban kepada seluruh rakyat agar mereka bisa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi atas kematian Arafat sehingga kami bisa segera menutup file ini."

    Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, melihat adanya alasan mengapa jasad Yasser Arafat tidak boleh digali kembali menyusul laporan Al Jazeera yang menyebutkan bahwa almarhum meninggal kemungkinan karena keracunan, kata juru bicara Presiden, Rabu 4 Juli 2012.

    Nabil Abu Rudeinah, otoritas Palestina, mengatakan dia akan menggunakan, "Para ahli dari negara-negara Arab dan ilmuwan internasional guna mendapatkan bukti-bukti baru."

    Nimr Hamad, pembantu Abbas, mengatakan pada Kamis 5 Juli 2012 bahwa mereka akan mengirimkan para ahli ke Eropa guna mempelajari hasil studi Institut Swiss yang mengungkapkan kasus kematian Arafat.

    Sembilan bulan lalu, hasil investigasi Al Jazeera menemukan bukti bahwa benda-benda yang dikenakan Arafat, seperti pakaian, sikat gigi, kafiyeh--penutup kepala sekaligus ikon dirinya--mengandung racun polonoium tingkat tinggi berikut elemen radiokatif.

    Para ilmuwan di Institut de Radiophysique, Lausanne, Swiss, yang mempelajari seluruh benda-benda pribadi Arafat berkesimpulan tulang-tulang Arafat banyak mengandung racun. "Penelitian ini tak terkait dengan politik atau alasan agama tertentu," kata Abu Rudeinah. "Termasuk penggalian jenazah Arafat sesuai dengan alasan ilmu pengetahuan dan medis."

    Saeb Erekat, juru runding Palestina, menyerukan kepada Komite Internasional  untuk mempelajari kematian Arafat. Hal yang sama pernah terjadi pada masalah kematian Hariri pada 2005. "(Itu) harus dilakukan," kata Erekat kepada Al Jazeera. "Kami akan melakukannya melalui PBB, Dewan Keamanan. Kami berharap setiap orang akan bekerja sama dengan kami sebab langkah kami semata-mata demi mencari kebenaran, lain itu tidak."

    Juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, mengatakan investigasi kematian Arafat adalah tugas nasional dan bangsa Arab. "Gerakan Hamas pertama adalah perlunya investigasi serius atas pembunuhan syuhada Yassefa Arafat jika hal tersebut merupakan sebuah upaya pembunuhan dan bukan akibat kematian wajar," katanya.

    "Pengungkapan (kematian) tersebut harus dilakukan dengan kombinasi antara rakyat Palestina dengan bangsa Arab untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, bagaimana Yasser Arafat dibunuh, dan tangan siapa di balik kejahatan ini."

    Berbicara kepada Al Jazeera, Rabu 4 Juli 2012, Suha Arafat, istri almarhum pemimpin Palestina, mengatakan pengungkapan penyebab kematian tersebut harus sesegera mungkin dilakukan.

    AL JAZEERA | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.