7 Negara Barat Usir Diplomat Suriah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Potongan gambar dari video amatir dari aktivis Suriah, menunjukkan pembantaian di Houla, Suriah pada Jumat (25/5) lalu yang menewaskan lebih dari 100 orang, yang kebanyakan adalah anak-anak. AP/Amateur Video via AP video

    Potongan gambar dari video amatir dari aktivis Suriah, menunjukkan pembantaian di Houla, Suriah pada Jumat (25/5) lalu yang menewaskan lebih dari 100 orang, yang kebanyakan adalah anak-anak. AP/Amateur Video via AP video

    TEMPO.CO , Jakarta - Setidaknya tujuh negara Barat mengusir para diplomat Suriah dari ibu kota mereka, Selasa, 29 Mei 2012. Itulah satu tindakan terkoordinasi terhadap pemerintahan Presiden Bashar al-Assad menyangkut pembunuhan lebih dari 100 warga sipil di satu kota di Suriah.

    Ketujuh negara itu adalah: Australia, Inggris, Kanada, Prancis,Jerman, Italia, dan Spanyol. Mereka  mengumumkan pengusiran itu setelah saling berkomunikasi soal tingkat aksi kekerasan di Suriah.

    Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, misalnya, menyebut Bashar seorang pembunuh dan kolega Australia-nya, Bob Carr, mengatakan mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan di Kota Houla harus dihukum.

    "Bashar al-Assad adalah pembunuh rakyatnya. Ia harus mundur. Makin cepat makin baik," kata Fabius dalam satu wawancara dengan surat kabar Le Monde.

    Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, mengatakan pengusiran-pengusiran itu bertujuan untuk menyatakan peda Bashar dan elite yang berkuasa bahwa waktunya telah habis bagi mereka untuk memenuhi rencana perdamaian itu.

    "Dunia dan masyarakat internasional ngeri atas atas aksi kekerasan yang terus terjadi oleh pemerintah, pembunuhan begitu banyak orang yang tidak bersalah, terakhir di Houla," kata Hague.

    Tindakan itu merupakan tahap baru usaha internasional menghentikan tindakan keras terhadap pemberontakan 14 bulan terhadap Bashar dan memaksa dia mundur.

    Bencana terbaru adalah pembunuhan, termasuk wanita dan anak-anak di Houla, pada Jumat, kendati pun masyarakat internasional semakin frustrasi atas kegagalan rencana perdamaian yang ditengahi PBB menghentikan pertumpahan darah di Suriah.

    Para pejabat Suriah membantah tentara berperan dalam pembunuhan itu. Perdana Menteri Turki, Tayyip Erdogan, juga mengecam pembunuhan itu dan mengatakan kesabaran internasional ada batasnya.

    Akan tetapi, Fabius mengesampingkan intervensi darat di Suriah dengan mengatakan risiko konflik itu dapat meluas. "Tentara Suriah kuat. Tidak ada negara yang bersedia mempertimbangkan intervensi darat sekarang," katanya.

    WDA | ANT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.