Ke Bangkok, Suu Kyi Mulai Lawatan Pertamanya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin pro demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi melambaikan tangan ke arah pendukungnya saat ia meninggalkan kantor Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) di Yangon, Myanmar, Senin (2/4). REUTERS/stringer

    Pemimpin pro demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi melambaikan tangan ke arah pendukungnya saat ia meninggalkan kantor Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) di Yangon, Myanmar, Senin (2/4). REUTERS/stringer

    TEMPO.CO, Bangkok - Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian sekaligus pemimpin oposisi Myanmar, akhirnya mengakhiri masa isolasinya. Selasa 29 Mei 2012, ia melawat ke Bangkok, Thailand.

    Inilah lawatan pertama Suu Kyi setelah 24 tahun diadiisolasi di negerinya sendiri. Lawatan ini sekaligus memulai debut Suu Kyi di panggung dunia.

    Ketika ke Bangkok, Suu Kyi dijadwalkan berpidato di Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur yang digelar di negeri tetanga Myanmar ini, Jumat, 1 Juni 2012. Suu Kyi juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra, hari ini, Rabu, 30 Mei 2012.

    Pemimpin oposisi Myanmar ini juga akan mengunjungi para pekerja migran di Provinsi Samut Sakhon, Bangkok selatan. Mereka adalah pekerja-pekerja asal Myanmar yang mengisi lebih dari 80 persen dari sekitar dua juta tenaga kerja asing yang terdaftar di Thailand. 

    “Ini adalah kunjungan yang sangat simbolis, tetapi juga substansif karena ini menandai langkah Aung San Suu Kyi sebagai politikus internasional,” kata Thitian Pongsudhirak dari Universitas Shulalongkorn, Bangkok, Selasa, 29 Mei 2012 seperti dikutip Associated Press.

    Seusai ke Thailand, Suu Kyi, akan kembali ke Myanmar sebelum kembali melawat ke Eropa pada pertengahan Juni. Ia akan resmi menerima Hadiah Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepadanya 21 tahun lalu di Oslo, Norwegia, pada 14 Juni.

    Selama lebih dua dekade, Suu Kyi menolak keluar dari Myanmar karena khawatir tak diizinkan kembali oleh junta militer yang ditentangnya kala itu, termasuk tak menghadiri penghargaan Nobel yang diterimanya 21 tahun lalu.

    WDA | CNN | AP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.