Wapres Rusia Duga Sukhoi Jatuh karena Human Error  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kopilot Sukhoi Superjet-100, Alexander Kochetkov melambaikan tangan saat sesi joy flight di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta. fotografersha.livejournal.com

    Kopilot Sukhoi Superjet-100, Alexander Kochetkov melambaikan tangan saat sesi joy flight di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta. fotografersha.livejournal.com

    TEMPO.CO, Moskow - Kesalahan manusia dan kerusakan teknis bisa menjadi penyebab utama di balik kecelakaan Sukhoi Superjet 100. Namun, pejabat sementara Wakil Presiden Rusia, Dmitry Rogozin, Kamis, menduga faktor human error lebih dominan.

    Bangkai pesawat telah ditemukan, tetapi kesimpulan resmi tentang penyebab kecelakaan pesawat itu belum diumumkan. Hingga saat ini, tim SAR masih berupaya mengevakuasi korban.

    "Saya berharap bahwa IAC (International Aviation Committee) akan bekerja cepat untuk menentukan penyebab dari tragedi ini. Tapi pendapat ahli menunjukkan bahwa teknologi Sukhoi bekerja dengan baik dan itu mungkin faktor manusia," kata Rogozin kepada wartawan di Moskow.

    Namun, kata dia, semua versi akan hanya merupakan spekulasi sampai komite itu memberikan kesimpulan akhir.

    Rogozin ikut saat pesawat jenis ini terbang pada Februari di Novosibirsk. Ia menganggap SSJ-100 sebagai pesawat komersial yang andal dan modern.

    "Selama penerbangan dari Novosibirsk ke Moskow, saya berada di kokpit dan pilot menjelaskan kepada saya keuntungan dari jet ini. Pesawat ini memiliki masa depan sangat menjanjikan dan kompetitif," kata Rogozin.

    Pilot kehormatan dan ahli keamanan penerbangan, Vladimir Gerasimov, menduga kecelakaan terjadi karena pilot.

    "Pesawat jet menabrak gunung," katanya. "Ini berarti dia turun lebih rendah dari batas aman. Ada ketinggian minimal untuk medan mulus, daerah perbukitan, dan daerah pegunungan. Jika jet sampai celaka, berarti ada aturan ketinggian yang dilanggar."

    Jika reruntuhan terletak di 1,5 kilometer dari titik terakhir komunikasi dengan kontrol lalu lintas udara--ini berarti hanya beberapa detik penerbangan. "Ini berarti kita berbicara bukan tentang pesawatnya, tetapi tentang pilot," katanya.

    Seorang pilot Indonesia, yang telah menerbangkan pesawat lebih dari 33 ribu jam terbang, juga sangat percaya kecelakaan itu disebabkan oleh kesalahan manusia. "Saya tidak bisa tidak bertanya-tanya sendiri, mengapa pilot meminta untuk turun ke 6.000 kaki? Itu melanggar izin ketinggian minimal (minimum obstacle clearance altitude/MOCA). Di lokasi itu, clearance minimum adalah sekitar 11 ribu kaki," kata Ronny Rosnadi seperti dikutip Russia Today.


    TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.