Siapa Francois Hollande, Calon Presiden Prancis?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Francois Hollande, saat berkampanye untuk pemilihan presiden 2012 Perancis, di Lorient, 23-04, 2012. REUTERS/Laetitia Notarianni

    Francois Hollande, saat berkampanye untuk pemilihan presiden 2012 Perancis, di Lorient, 23-04, 2012. REUTERS/Laetitia Notarianni

    TEMPO.CO, Paris - Kursi presiden untuk Francois Hollande tak lama lagi bakal diraih setelah dia memenangkan pemilihan Presiden Prancis putaran pertama dengan mengalahkan Presiden Nicolas Sarkozy. Putaran kedua digelar pada 6 Mei 2012.

    Kemenangan pemimpin Partai Sosialis itu, kendati tak disebut mujur-mujur amat, diraih setelah skandal seks menimpa Dominique Strauss-Kahn (DSK) yang dicalonkan Partai Sosialis untuk menantang Sarkozy.

    Hollande menggalang kekuatan partai ini ketika rekan sekaligus teman kumpul kebonya, Segolene Royale, kalah dalam pemilihan presiden melawan Sarkozy pada 2007. Setelah DSK tak maju dalam pemilihan presiden akibat skandal seks, Hollande menggantikannya.

    DSK ditahan setelah seorang pegawai hotel di New York menuduhnya melakukan percobaan pemerkosaan. Kendati bekas pemimpin IMF ini dibebaskan dari segala dakwaan oleh pengadilan Amerika Serikat, namun reputasinya telanjur hancur.

    Seorang komentator mengatakan Hollande melakukan manuver sebelum skandal itu pecah. "Dia menyiapkan kampanyenya selama 18 bulan, jauh sebelum DKS tertimpa kasus," kata jurnalis Agnes Poirier kepada CNN.

    Lahir pada 1954 di sebelah utara Kota Rouen, Hollande adalah putra pasangan seorang dokter dengan pekerja sosial. Ia menempuh pendidikan di perguruan tinggi elite Ecole National d'Administration (ENA). Pada 1978, Hollande bertemu dengan Royale. Selanjutnya keduanya menjalin hubungan asmara selama tiga dekade tanpa ikatan perkawinan. Pasangan ini memiliki empat anak, namun berpisah sebulan sebelum pemilihan presiden 2007.

    Hollande menjadi anggota parlemen wakil dari selatan, Correze, sejak 1988. Kendala utama Hollande, menurut para pengamat, adalah dia tak pernah memegang jabatan nasional secara resmi, meskipun memimpin partai besar. Pria 57 tahun ini tak peduli dengan omongan pengamat. Dia berkata, "Selalu ada risiko ketika seorang calon menjadi presiden, apa yang diharapkan dari dia?"

    Sebelum pemilihan babak pertama digelar, bekas Presiden Jacques Chirac memberikan dukungan kepada Hollande. Penulis biografi Chirac, Jean Luc Barre, berkata kepada televisi Prancis, BFM TV, "Dia mengatakan pada akhir Juni lalu bahwa dia akan memberikan suara untuk Francois Hollande."

    CNN | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.