AS Santuni Korban Penembakan Afgan Ribuan Dolar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prajurit AMerika Serikat, Robert Bales, yang diduga menjadi pelaku penembakan yang menewaskan 16 warga sipil Afganistan

    Prajurit AMerika Serikat, Robert Bales, yang diduga menjadi pelaku penembakan yang menewaskan 16 warga sipil Afganistan

    TEMPO.CO, Kabul - Amerika Serikat membayar USD 50 ribu sebagai kompensasi untuk setiap warga desa yang tewas akibat penembakan oleh seorang tentaranya di Kandahar, Afganistan. Santunan sebesar USD 11 ribu diberikan pada korban yang cedera.

    Keluarga diberitahu bahwa santunan itu datang dari Presiden Barack Obama. Santunan dalam jumlah yang luar biasa besar itu adalah langkah terbaru Gedung Putih untuk memperbaiki hubungan dengan Afganistan. Penembakan itu memperkeruh hubungan yang sudah tegang.

    Sersan Angkatan Darat Bales Robert dituduh menyelinap dari markasnya pada 11 Maret, kemudian pergi ke rumah di dua desa terdekat dan menembaki penghuninya saat mereka tidur.

    Penembakan terjadi saat hubungan AS dan Afganistan sedang tegang menyusul pembakaran Al Quran di sebuah pangkalan AS di bulan Februari. Tindakan yang oleh para pejabat AS dianggap merupakan sebuah kekeliruan itu telah memicu kerusuhan yang menewaskan lebih dari 30 orang, termasuk enam tentara AS.

    Tidak ada protes kekerasan setelah penembakan 11 Maret di Panjwai, Kandahar, tetapi tuntutan keadilan semakin keras sejak Bales diterbangkan ke luar negeri ke penjara militer AS.

    Peneliti AS percaya Bales kembali ke markasnya setelah serangan pertama dan kemudian menyelinap pergi untuk membunuh lagi. Hipotesis ini tampaknya akan mendukung pernyataan pemerintah AS bahwa penembak bertindak sendirian.

    Bales didakwa dengan 17 tuduhan pembunuhan terencana dan kejahatan lain dan bisa menghadapi hukuman mati jika terbukti bersalah.

    TRIP B | REUTERS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.