Australia Pantau Pemilu Timor Leste

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kotak-kotak suara sebelum didistribusikan terlihat di kantor komisi pemilu di Dili, Timor Timur, Kamis (15/3). REUTERS/Lirio Da Fonseca

    Kotak-kotak suara sebelum didistribusikan terlihat di kantor komisi pemilu di Dili, Timor Timur, Kamis (15/3). REUTERS/Lirio Da Fonseca

    TEMPO.CO, Dili - Australia memantau pemilihan umum presiden di Timor Leste yang dilaksanakan pada Jumat, 17 Maret 2012. Pemilu ini adalah yang kedua sejak kemerdekaan negara tersebut pada 2002.

    Para delegasi Australia yang terdiri dari kelompok pemantau sudah di tiba di Dili pada pekan ini. Berbeda dengan pemilu sebelumnya, PBB tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan pemilu ini.

    Sebanyak 10 calon maju dalam pemilu, termasuk pemimpin oposisi Fransisco "Lu Olu" Gutteres. Calon lainnya adalah peraih Nobel Perdamaian Jose Ramos-Horta dan mantan Kepala Angkatan Bersenjata Mayor Jenderal Taur Martar Ruak.

    Rae Kingsbury, koordinator dari salah satu kelompok pemantau, mengatakan mereka mulai meninjau tempat pemnungutan suara di seluruh penjuru Timor Leste. "Ada 54 warga Australia yang menginvestasikan AUS$ 4.500 hingga AUS$ 5000 atau Rp 43 juta hingga Rp 48 juta," ujarnya.

    Ia mengatakan bahwa dana yang diinvestasikan menghasilkan pemasukan yang tinggi. "Kami tidak pernah membayangkan pemasukan yang kami peroleh akan membuat kami lebih kaya," ujar Kingsbury.

    Salah satu sukarelawan Australia di Dili, Michael Maley, telah malang melintang di komisi pemilihan umum Australia selama 30 tahun. Tugas yang pernah dijalankannya adalah membantu PBB menyelenggarakan pemilu pertama Timor Leste pada 2001.

    "Saya merasa beruntung bisa bekerja sejak awal dengan para administrator dan mereka mengerjakannya dengan sangat baik," ujar Maley. Ia mengatakan, para pemantau Australia dibutuhkan kiprahnya untuk memantau validitas pemungutan suara.

    "Para pemantau sangat mendukung jalannya pemilu dan mereka adalah tim yang signifikan. Kenyataan bahwa PBB tidak lagi terlibat membuat warga Timor bekerja lebih keras dan berupaya memainkan peran yang besar dalam melaksanakan pemilu," ia menjelaskan.

    Maley mengatakan kini kondisi Timor Leste jauh lebih tenang dibanding Pemilu 2007. Saat itu kondisi keamanan tidak kondusif karena adanya krisis.

    Para calon dalam pemilu kali ini sangat kompetitif dan mereka sepakat dengan rencana PBB yang akan mengakhiri misinya akhir tahun ini. Mereka berharap pemilu berjalan bebas dan adil.

    ABC | SATWIKA MOVEMENTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.