Peringatan Pearl Harbour Versi Australia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP| file

    AP| file

    TEMPO.CO , Darwin – Hari ini, Minggu 19 Februari 2012, adalah peringatan 70 tahun pengeboman tentara Jepang ke Kota Darwin di utara Australia. Peristiwa yang mirip dengan penyerangan "Pearl Harbour" di Samudera Pasifik ini tidak banyak dikenal masyarakat dunia.

    Penyerangan kota Darwin terjadi 10 minggu setelah peristiwa Pearl Harbour, tepatnya 19 Februari 1942. Buku sejarah resmi angkatan bersenjata Australia hanya menuliskan dua halaman mengenai kronologi kejadian. Sedangkan tragedi Pearl Harbour yang terjadi pada 7 Desember 1941 dikenang sebagai sejarah dunia.

    Serangan udara ini terjadi di pagi hari. Setengah jam sebelum serangan sebuah pesawat tampak terbang di atas langit utara Darwin. Orang-orang yang melihatnya mengira pesawat itu adalah pesawat Kitty Hawk milik Amerika Serikat.

    Beberapa detik sebelum bom dijatuhkan, sirine tanda bahaya dibunyikan di penjuru Darwin. Dalam waktu 40 menit, 188 pesawat, yang diketahui milik tentara Jepang, berhasil menghancurkan dermaga dan isi kota. Jumlah korban tewas mencapai 240 orang.

    Serangan itu juga menenggelamkan delapan kapal, termasuk milik Amerika Serikat, yaitu Kapal USS Peary. Adapun sebanyak 22 pesawat terbang berhasil dihancurkan.

    Margaret Herron, saksi mata yang saat itu berusia 11 tahun, menceritakan serangan tersebut. “Pesawat terbang begitu rendah, kami bisa melihatnya dengan jelas,” ujarnya.

    “Bom berbentuk lingkaran berwarna perak yang menyerupai sebuah bel dijatuhkan, kami pun berlarian,” Herron menuturkan.

    Masyarakat Kota Darwin tidak pernah mendapat pengarahan atau pelatihan mengenai waspada serangan militer. Tidak adanya peringatan dini dalam serangan Darwin dianggap sebagai sejarah memalukan bagi bangsa Australia.

    Ada lebih dari 60 serangan udara di Australia hingga 1963, tapi pengeboman di Kota Darwin adalah yang terburuk.

    “Itu sebuah bencana,” ujar Tom Lewis, sejarawan yang juga direktur Darwin Military Museum.

    “Saat itu bangsa Australia telah lebih dulu berperang di Eropa dan Timur jauh, tapi serangan yang datang ke Australia adalah hal yang buruk,” Lewis menjelaskan.

    Beberapa jam setelah pengeboman terjadi tindak anarkis dan penjarahan di Kota Darwin. Beberapa hari setelahnya ratusan tentara Australia masih dinyatakan hilang.

    Perdana Menteri John Curtin dikritik atas peristiwa tragis tersebut. Kepemimpinan yang buruk tidak bisa menyelamatkan rakyatnya. Seharusnya serangan tentara Jepang dapat diantisipasi agar tak jatuh banyak korban jiwa.

    BBC | SATWIKA MOVEMENTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.