Pengusaha Arab Didesak Danai Oposisi Suriah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto yang dirilis oleh kantor berita Suriah SANA, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, berbicara kepada para reporter setelah pertemuannya dengan Presiden Suriah Bashar Assad,  di istana kepresidenan, di Damaskus, Suriah, Selasa (7/2). AP/SANA

    Foto yang dirilis oleh kantor berita Suriah SANA, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, berbicara kepada para reporter setelah pertemuannya dengan Presiden Suriah Bashar Assad, di istana kepresidenan, di Damaskus, Suriah, Selasa (7/2). AP/SANA

    TEMPO.CO , Damaskus : Oposisi Suriah kemarin mendesak para pengusaha Suriah dan Arab mendanai pasukan antipemerintah. Dana ini, menurut Dewan Nasional Suriah dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA), akan digunakan untuk menjungkalkan rezim Bashar al-Assad. "Dana ini akan digunakan secara efisien dan efektif untuk melindungi warga sipil," kata kedua lembaga itu dalam pernyataan bersama.

    Dalam kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Kepala Badan Intelijen Mikhail Fradkov tiba di Damaskus. Selain membawa surat dari Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang berisi proposal perdamaian, menurut kantor berita RT, keduanya diharapkan dapat membantu Assad menemukan solusi untuk mengakhiri pertumpahan darah selama 11 bulan terakhir.

    Namun kunjungan petinggi Rusia ini tak menghentikan serangan brutal pasukan pemerintah terhadap oposisi. Sedikitnya 21 warga sipil dan empat tentara tewas kemarin di seluruh Suriah. "Seorang dokter yang berusaha memasuki kawasan Baba Amro di Kota Homs justru terluka. Saat ini tak ada listrik dan seluruh komunikasi ke daerah itu terputus," kata aktivis Homs, Mohammad al-Hassan.

    Serangan brutal itu membuat beberapa negara Barat mulai menarik diplomatnya dari Suriah. Duta Besar Inggris, Belgia, Italia, dan Prancis ditarik ke negara asal. Sedangkan Amerika Serikat, Senin lalu, menarik seluruh staf kedutaan, termasuk Duta Besar Robert S. Ford, ke Yordania. "Situasi yang memburuk menunjukkan jalan bahaya yang ditempuh rezim Assad," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Victoria Nuland.

    Sementara itu, Turki mengajukan inisiatif untuk menyelesaikan konflik berdarah di Suriah. "Kami akan memulai kerja sama dengan beberapa negara yang mendukung rakyat Suriah, bukan rezim Assad," kata Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan. Belum jelas dengan negara mana kerja sama tersebut akan berlangsung, tapi hari ini Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu bertolak ke Amerika.

    Toh, dukungan terhadap Assad masih muncul, termasuk dari Ibu Negara Suriah, Asma Assad. Untuk pertama kalinya dalam 11 bulan terakhir, ibu negara kelahiran Inggris itu mendukung suaminya secara terbuka. "Presiden masih memimpin Suriah dan saya mendukungnya. Namun saya tetap mendengar dan menemui korban kekerasan," tulisnya dalam surat elektronik kepada harian Inggris, The Times.

    THE NEW YORK TIMES | THE DAILY STAR | THE TELEGRAPH | REUTERS | SITA PLANASARI A


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.