Kapten Costa Menangis Meraung-raung Bak Bayi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapten kapal Costa Concordia Francesco Schettino (kedua dari kanan) dibawa keluar dari sebuah mobil ke dalam tahanan di Grosseto, setelah diinterogasi pihak yang berwajib, Italia, Selasa (17/1). REUTERS/Reuters TV

    Kapten kapal Costa Concordia Francesco Schettino (kedua dari kanan) dibawa keluar dari sebuah mobil ke dalam tahanan di Grosseto, setelah diinterogasi pihak yang berwajib, Italia, Selasa (17/1). REUTERS/Reuters TV

    TEMPO.CO , Giglio - Kapten kapal pesiar Costa Concordia yang terbalik "menangis seperti bayi". Ia meluapkan semuanya ketika memeluk pendeta hanya beberapa jam setelah kapal menghantam batu. Begitu pengakuan pastor Raffaele Malena, pastor yang bertugas di kapal mewah itu.

    Ia mengatakan dia berada di antara orang terakhir yang meninggalkan kapal sekitar pukul 01.30 waktu setempat pada hari Sabtu dan kemudian berada "dekat dengan mereka yang cedera" di pelabuhan kecil Giglio.

    "Saya turun melalui tangga tali. Aku dijemput oleh sekoci kecil," katanya. Sekitar satu jam kemudian, Kapten Franceso Schettino muncul.

    "Saya berbicara dengan kapten. Dia memeluk saya selama sekitar seperempat jam dan menangis meraung-raung seperti bayi," kata Pastor Malena pada majalah Prancis Famille Chrétienne seperti dikutip Telegraph.

    "Tentu saja itu kasus kesalahan manusia karena tidak seharusnya kapal begitu dekat dengan pulau itu," katanya tentang musibah yang menimpa mereka, di mana 11 orang tewas 21 hilang. "Tapi bukan hak saya untuk menilai. Biarkan para ahli yang bicara soal ini," katanya.

    Tapi dia tegas menolak beberapa laporan yang menyebut kru kapal tidak kompeten dan tidak membantu penumpang yang ketakutan melarikan diri ke sekoci. "Mereka semua anak laki-laki saya. Mereka bukan sekadar pahlawan, mereka adalah pahlawan super," katanya. "Anak-anak saya tahu mereka akan mati tapi mereka tidak meninggalkan pos mereka."

    Ia juga meminta media untuk berhenti memojokkan salah satu pihak karena hal itu sama sekali tak berguna. "(Pers) dapat membuang lumpur sebanyak yang mereka inginkan pada wajah mereka, tapi mereka tidak dapat mengatakan anak laki-laki tidak bekerja, bahwa mereka tidak terlatih," katanya.

    Menceritakan kecelakaan itu, ia mengatakan kembali ke biliknya setelah makan malam ketika, "Aku merasakan kejutan besar, seperti perahu bergoyang dari sisi ke sisi .... lalu listrik mati."

    Beberapa menit kemudian perahu berbalik keras. "Saya melihat beberapa anggota kru yang bekerja di kamar mesin. Mereka mengatakan kepada saya: 'Kita semua akan mati. Pada lambung ada lubang."

    Malena mengungkapkan ia pergi untuk berdoa selama beberapa saat di kapel kapal sebelum meninggalkan kapal. Bapa Malena kini telah kembali ke desanya Ciro Marina di Calabria.

    TRIP B

    Berita Terpopuler Lainnya
    Siapa Sebenarnya Si Pirang, Teman Kencan Kapten Costa?
    Teman Kencan Kapten Kapal Costa Diburu di Internet

    Satu ABK WNI Costa Concordia Patah Tulang Belakang

    Keluarga ABK Cruise Costa Concordia Trauma

    Monyet 'Drakula' Ditemukan di Kalimantan
    Begini Kiat Dahlan Ubah Pola Pikir Karyawan BUMN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.