Baru Dua dari 170 ABK Indonesia Diketahui Nasibnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal pesiar mewah Costa Concordia pada posisi miring setelah karam di perairan Pulau Giglio, Italia, Sabtu (14/1). AP Photo/Enzo Russo

    Kapal pesiar mewah Costa Concordia pada posisi miring setelah karam di perairan Pulau Giglio, Italia, Sabtu (14/1). AP Photo/Enzo Russo

    TEMPO.CO, Jakarta - Baru dua dari 170 anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal pesiar super mewah Costa Concordia diketahui nasibnya, setelah kapal itu tenggelam. Kedua ABK yang disebut dengan identitas Nyoman dan Wayan itu menderita luka.

    “Nyoman menderita patah tulang rusuk dan masih dirawat di rumah sakit di Porto Santo Stefano,” ujar juru bicara Kedutaan Besar Indonesia di Italia, Musrifun Lajawa kepada Tempo, Ahad 15 Januari 2012. Sedang Wayan menderita luka di tangan. “Oleh karena lukanya yang ringan, ia tidak dirawat di rumah sakit.”

    Kapal itu tenggelam di  perairan dekat pulau Giglio, Italia, akibat menabrak karang pada 14 Januari 2012. Menurut Musurifun, hingga hari ini, pihak Kedutaan masih mencari data tentang keberadaan seluruh ABK itu. "Kami belum dapat memberikan data lengkap tentang identitas korban karena masih mencari tahu ke pemilik kapal pesiar," katanya.

    Sebelumnya, Kedutaan menerima informasi bahwa tidak ada korban dari ABK asal Indonesia. Namun, kata Musurifun, hari ini dikabarkan ada dua ABK asal Indonesia yang terluka. "Jadi, kami terus meng-update," katanya.

    Kapal pesiar mewah ini membawa sekitar 4.000 penumpang berikut awak kapal. Tenggelamnya Costa Concordia mengingatkan banyak orang tentang peristiwa tenggelamnya kapal pesiar mewah Titanic.

    MARIA RITA

    Berita Terpopuler Lainnya:
    Terjebak di Costa Concordia Saat Bulan Madu
    Kisah Costa Concordia yang Kandas Bak Titanic

    Foto-foto: Tragedi 'Titanic' Costa Concordia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.