Filipina Tutup 500 Usaha Tambang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Regu penyelamat membawa korban tanah longsor di kota Pantukan, Filipina, Jumat (6/1). REUTERS/Stringer

    Regu penyelamat membawa korban tanah longsor di kota Pantukan, Filipina, Jumat (6/1). REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Manila - Setelah merenggut puluhan nyawa, pemerintah Filipina akhirnya memutuskan menutup 500 usaha tambang berskala kecil dan merelokasi para penambang serta keluarganya dari kawasan pertambangan Kota Pantukan di Lembah Compostela, Pulau Mindanao, Filipina.

    Penutupan usaha tambang di kawasan tambang emas tersebut disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Jesse Robredo saat mengunjungi lokasi bencana kemarin. "Selain menutup usaha pertambangan kecil yang diduga sebagian besar ilegal dan merelokasi, pemerintah menutup sejumlah terowongan tambang serta semua rumah di sekitarnya dirobohkan," katanya.

    Tanah berton-ton beratnya pada Rabu dinihari lalu menimpa rumah warga dan jalanan. Bencana itu menewaskan 22 orang dan 150 orang hilang. Kemarin para petugas penyelamat melanjutkan pencarian korban.

    Dari Istana Malacanang, Presiden Benigno S. Aquino III memerintahkan Robredo melakukan penyidikan atas peristiwa itu.

    Juru bicara Komando Kawasan Timur Mindanao, Kolonel Leopoldo Galon, mengemukakan militer akan membantu pemerintah setempat menetapkan kawasan itu terlarang bagi kegiatan pertambangan. "Sehingga peristiwa serupa tidak terulang di masa depan," ujarnya.

    Menurut Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam, sejak April 2011, pemberian Sertifikat Kepatuhan Lingkungan kepada perusahaan-perusahaan pertambangan skala kecil di area itu telah dihentikan. Namun aktivitas pertambangan masih tetap berlangsung.

    Selama ini daerah Pantukan dan Monkayo merupakan daerah yang kaya akan emas dan menjadi area pertambangan selama bertahun-tahun. Meski sudah terjadi longsor yang merenggut nyawa berkali-kali, para penambang di sana tak kapok.

    Peristiwa tanah longsor kemarin merupakan yang kedua kalinya dalam satu tahun ini. Bencana pertama terjadi pada April 2010, yang menewaskan sedikitnya 20 orang. Menurut Kepala Kepolisian Lembah Compostela, Timoteo Pacleb, tanah longsor tiga hari lalu terjadi dengan luas 60 meter persegi dan panjang 300 meter dengan kedalaman 150 meter.

    INQUIRER.NET | MANILA BULLETIN | PHILLIPINE STAR | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.